
Rajangocok.com
RajaNgocok — Cerita Dewasa Narti mendapat kesenangan melepaskan tangan Warto ke dalam kelaminnya — Adalah warto seorang pria lajang asli banyumas yang berprofesi sebagai penarik gerobak sayur disebuah pasar tradisional dibilangan jakarta selatan.
Berperawakan sedang ukuran rata-rata, tinggi tidak, pendek tidak, jelek nggak, cakeppun ngga, kulit sawo lebih disukai agak hitam, karena profesi sebagai penarik gerobak postur tubuh menjadi ideal tanpa kebugaran, maklum penerik gerobak lebih banyak menggunaka Sehingga secara tidak sengaja otot akan terbangun dengan sendirinya.
Jam kerja warto jam 3 sore sampai jam 12 malam melayani para pedagang — pedagang membawa barang dagangan atau pembeli membawa pulang barang belanjaan. Dari sekian banyak langganan warto ada pedagang sayur dan bumbu dapur bernama narti yang begitu dekat dengan warto karena semakin pangkalan gerobak warto tergantung pada konter atau terus lapak dagangan mbok narti. Hubungan bisnis mereka tergolong dekat sampai-sampai pembayaran ongkos gerobak dibayar bulan oleh mbok narti.
Mbok narti berasal dari salah satu desa di Indramayu, kulit hitam berwajah manis, dengan tinggi sementara memiliki buahdada ideal yang sering membuat mas warto melihat dengan sudut pandang, ukuran cukup mantap sekitar 34 atau 35. Telah bersuami sesuai mas tarsica yang tinggal dikampung dilihat sawah dan bebek hasil berjualan narti di kota. Narti pun berhasil jika Warto sering dilanggar, tetapi dia tidak begitu mempedulikan malah semakin sulit mengekspos bagian-bagian yang bisa mengundang hasrat birahi Warto, malah kadang-kadang tatapan Warto dan Narti yang sedang mencari tahu apa yang terjadi.
Pada suatu pagi, Warto menerima telpon dari pamannya di kampung yang mengabarkan bahwa Bude membutuhkan biaya untuk berobat karena sakit. Bude Sakem adalah orang yang menbesarkan Warto, dia ditinggal oleh orang tuanya, transmigrasi ke Lampung. Warto memang dekat dengan budenya yang hanya ini karena ia ingin membalas jasa budenya. Warto bingung karena saat ini ia tidak memiliki uang. Uang dikantong hanya cukup untuk makan siang nanti.
Dalam kebingunganya Warto teringat relasinya dipasar yah Narti, ia akan meminta bantuan uang, atau paling tidak ia mencoba meminta bayaran gerobak dimuka agar ia dapat segera mengirim uang sebagaimana kebudenya yang sedang sakit di kampung. Bergegas ia menuju rumah petakan Narti yang terletak di belakang pasar tempat ia berdagang. Kontrakan Narti merupakan rumah petakan kumuh dibuat dari tripleks dan dicet apadanya, rapat dan berhimpatan satu dengan lainnya. Berhasil dihuni oleh sesama pedagang dipasar.
Tidak sesuai lama Warto tiba dipetakan Narti, suasana petakan sepi karena jam segini sekitar jam 9 sampai jam 11 mahal penghuni pergi ke pasar induk kramat jati untuk membeli barang dagangan. ceritasexdewasa.org Warto sedikit cemas, jangan-jangan Narti juga pergi belanja ke pasar induk. Dengan ragu-ragu Warto mencoba mengetuk pintu petakan Narti, sepi tidak mendengar jawaban, kembali Warto menjadi ragu apakah Narti ada di petakan. Dia kembali mencoba mengetuk pintu, tidak juga ada jawaban, kompilasi Warto mulai merasa puas, terdengar suara penghuni sebelah petakan, seorang nenek tua, ibu dari pedagang di pasar yang juga Warto mencari mengatakan Narti sedang mandi di MCK dekat musola dekat 25 meter dari petakan Narti.
”Tunggu aja di dalam mas, mbak Narti nanti lagi juga selesai” ujar nenek tetangga Narti.
”Baik nek, tak tunggu di sini aja” jawab Warto dengan logat jawanya yang dihaluskan karena menghormati nenek.
Dengan perasaan galau Warto menunggu Narti, tidak lama lagi Warto menunggu terlihat Narti tergopong berjalan sambil berlari bagian dadanya yang nampak tercetak dua bukit kembar karena Narti tidak menggunakan handuk yang menggunakan pengiring tidur tadi.
“Weh ADA mas Warto, ada apa mas tumben kesini, ADA Perlu sama aku” Narti nyerocos Sambil Tetap bejalan Menuju Pintu petakannya
“Ya .. mbak .. aku ADA Perlu nih” Narti menyuruh Warto MASUK kepetakannya, KARENA besarbesaran TIDAK enak Bicara PENGOPERASIAN, ia berpikir tidak mungkin mas Warto pagi-pagi begini kepetakannya jika tidak perlu Narti melihat wajah Warto tampak sedih.
”Ada apa Mas, enak sekali lagi nih” tanya Narti
”Aku butuh uang Mbak budeku dikampung sakit, dia minta aku beli uang untuk ongkos berobat”, mata Warto tidak lepas dari tulisan dada yang sangat jelas didada Narti.
Dasar, wong lagi bingung kok, tetap ke ”susuku” pikir Narti.
”Sakit apa” Narti mencoba menyakinkan, dengan tidak berusaha lagi membuat cetakan susunya seperti saat ini berjalan dari MCK menuju petakannya.
Pikirnya toh mas Warto sering juga menatapnya pada saat ini berdagang.
“Saya nggak tau, tapi mereka meminta saya mengirim uang untuk berobat, mba boleh saya minta bayaran gerobak untuk bulan depan mbak” dengan setengah menunduk Warto meminta maksudnya kepada Narti.
”Mas Warto butuh jumlah” tanya Narti
”Ya jumlah bayaran upah saya aja, mba, 185 ribu” jawab Warto dengan tetap menunduk.
”Sebentar ya mas” Narti beranjak ke balik hordeng biliknya, entah apa yang akan dilakukan Warto bertanya-tanya
Sejenak Warto dapat menilik benda-benda yang ada di petakan Narti, sebuah termos, 2 buah gelas kaca yang sudah tidak bening lagi, sebuah kasur butut dan radio kecil serta sebuah changer hp masih menempel di stop kontak. Dan apa itu, sebuah BH dan celana dalam yang mulai terurai benangnya milik Narti tergantung di jemuran di dalam petakan, mungkin malu jika di jemur di luar. Warto menggunakan BH ini karena sering digunakan oleh Narti.
”Ini mas 200 ribu, aku buletin uangnya, sekalian aku bantu mas yang lagi ketimpa musibah, mudah-mudahnya bude Sakem cepat pulih” suara Narti mendorong Warto yang sedang menjelajah sekitang petakan Narti.
”Aduh terima kasih mbak” mata Warto menerima sinar karena Narti berkenan menolongnya.
”Uang ini saya titipkan pada Yanto, tukang ketoprak tetangga yang akan sakit nanti pulang kampung”.
”Ya sudah cepat ke sana, nanti keburu Yanto tidak ada” ucap Narti
”Tanpa ba-bi-bu Warto segera kerumah Yanto, situkang ketoprak yang akan pulang kampung.
”Yan… ini aku titip buat bude Sakem yang sedang sakit 190 ribu rupiah, yang 10 ribu untuk nambahin ongkos kamu, sekalian salam dan katakan aku belum bisa pulang”
Adalah menjadi kebiasaan dilingkungan Warto, saling menitip, uang, ada, kerabat, tetangga, atau teman, yang akan pulang kampung. Warto juga telah beberapa kali dititipi oleh Yanto. Memang mereka tidak mengenal adanya transfer uang lewat bank.
”Baik nanti aku sampaikan Ke… wis kamu ndak usah bingung, semoga nggak ada apa-apa” ucap Yanto.
“Terima kasih. Terima kasih. Hati-hati ya.”
Kembali terbayang wajah bude Sakem, wajah yang teduh dan rela mengatur dan menganggapnya sebagai anak, wajah yang penuh kedamaian. Bagiamana budenya mengajarnya setiap malam, bagaiamana budenya menemani saat ia makan, semua kembali terbayang. Tapi karena faktor usia, saat ini ia tergolek lemah di kampung.
Tiba-tiba ingatannya kembali ke Narti, ia belum menerima apa pun yang dikembalikan terima kasih setelah ia menjadi dewa penolong diterima. Warto kembali menuju petakan Narti, untuk meminta terima kasih atas pertolongan yang telah ia berikan.
Tidak berapa lama Warto telah tiba tiba dimuka petakan Narti, Warto langsung menyeruak masuk tanpa mengetuk lebih dulu. Terbelalak Warto melihat pemandangan yang terlihat di dalam, saat itu Narti sedang mengeringkan badannya dengan daster tipis sebagai handuk. Narti hanya menggunakan handuk untuk membantu pembunuhannya, sedangkan dua buah bukit kembarnya ditutup dengan BH warna putih yang telah menjadi krim yang dapat digunakan untuk menampung isinya. Warto tidak pernah membayangkan jika payudara Narti begitu indahnya besar, putih dan masih seperti orang belum bersuami, mungkin karena jarang disentuh oleh kebebasan
Mereka berdua terkesima, Warto terbelalak menyaksikan pemandangan ini sedangkan Narti hanya diam seribu basa karena tidak tau apa yang harus dilihat.
Tiba-tiba kedua mata mereka saling bertemu satu sama lain, saling bertatapan dengan tetap tanpa suara, saat itu naluri sebagai manusia yang berbicara, Warto mendekat sementara Narti masih tetap diam, bahasa
.
Narti merasakan hangatnya birahi Warto, akhirnya ia merasakan nikmatnya air tawar dikeningnya, ia memejamkan mata tak tau harus menikmati atau apa yang harus dilakukan sesaat, karena lembutnya kecupan Warto, birahinyapun mulai terusik, seperti halnya kecupan Warto sampai pada bibirnya.
Hangat sekali kecupan Warto, kecupan yang memang telah lama tidak ia rasakan, lidah Warto lincah bermain di dalam mulutnya yang mau tidak mau harus diundang untuk menyiapkan permainan lidah dan bibir Warto.
Tangan kanan Warto mulai membaca bagian belakang Narti yang memang tidak terbungkus apa-apa yang hanya seutas tali BH yang masih terikat di sana, diusapnya lembut ikat pinggang dan pantat Narti, kemudian tangan kulai mulai menelusur diperut
Ehhhh ………… ..Narti berguman menikmati usapan dan belaian serta kecupan bibir Warto, ditambah lagi tangan kiri Warto lebih lanjut memperbaikinya dua bukit kembar miliknya yang masih terbungkus BH, yang ingin mendapatkan kenikmatan. Tangan kanan Warto naik dari pantat menuju pengait tali BH Narti dan dengan sentuhan halus, BH itu sudah terlepas dan meluncur sampai tertahan oleh handuk penutup melepaskan Narti.
Tampaklah oleh Warto dua bukit kembar milik Narti yang kini bebas melepaskan tanpa penghalang. Warto semakin bersemangat dari semula mengusap, membelai kemudian kini sudah sampai pada saat meremas, apa saja yang ia remas berakhir, perut, pinggul hingga payudara Narti tidak luput dari remasannya. Narti tidak berdaya, ia benar-benar dimabuk nafsu yang dibangkitkan oleh Warto dan penarik gerobak langganannya. Ia tidak ingat lagi pelajaran dikampung, ia lupa segalanya.
Sedikit demi sedikit Warto mendorong tubuh Narti ke Arah kasur butut milik Narti yang hanya sesuai dengan dorongan tubuh Warto hingga ia menurunkan efisiensi dan duduk dikasur. Warto mengikuti gerakan Narti menuju tempat tidur mulutnya kini bermain lincah memainkan puting susu Narti. Seakan tidak puas hanya mengecup dan diselesaikannya tanggan kirinyapun ikut membantu meremas-remas bukit kembar milik Narti.
Dengan dorongan Warto sekarang tubuh Narti sudah tergolek dikasur tanpa penutup dada hanya handuk yang tidak mampu lagi mendukung keselamatannya karena tersingkap oleh gesekan-gesekan tubuh mereka.
Kebiasaan Narti, sehabis mandi hanya menggunakan handuk sebagai penutup barang miliknya paling pantas tanpa celana dalam, sedangkan bagian dada hanya dibungkus BH (mending BH-nya bagus). Kebiasaan seperti ini kerap ia lakukan sambil beraktivitas di petakannya.
Kebiasaan seperti ini memudahkan Warto untuk melakukan aksinya. Kembali ia mengecup bibir Narti yang memang sudah menunggu aksi Warto berikutnya. Gejolak birahi yang dirasakan segera menghempas segalanya. Statusnya sebagai istri dari Tarsica, seorang petani dan pemelihara bebek di kampung tidak lagi mengingat. Apalagi tangan kanan Warto mulai dibuka handuk lusuh satu-satunya yang masih ia kenakan sebagai penutupanannya.
Dengan sekali tarik, tampaklah oleh Warto, pembunuhan Narti dihadapannya, rambut yang terkumpul berwarna hitam tampak acak-acakan dan terawat, perawatan vagina milik Narti. Pantulan cahaya matahari yang menerobos lewat celah dinding petakan Narti membantu memberikan penerangan bagi Warto untuk melepaskan kesulitan meluncurkan Narti. Ia kagum dengan Narti, Narti yang tampak menonjol, kue apem yang adonananya sempurna. Agen Judi Online
cerita seks— Narti agak risik melihat Warto melihat vaginanya seperti ingin melihat sepenuhnya, Narti mengapai tonjolan diselangkangan Warto yang memang sejak tadi menuntuk untuk dijamah, Warto terhenyak dengan pengadukan tangan Narti yang dikemukaannya, juga hal itu mungkin ingin dilihat lagi, karena Kenikmatan dan kesenangan yang ia rasakan sangatlah menghanyutkan, menghabiskan, dan membantu. Warto tak sabar segera memelorotkan celana CD-nya, agar kenikmatan yang ia rasakan semakin terasa. Kaos berlambang salah satu Caleg Partai tertentu yang ia gunakan juga tak luput ia lepaskan








