Cerita Dewasa Selingkuhanku Adalah Mertuaku Sendiri | Rajangocok.com
RajaNgocok — Cerita Dewasa Selingkuhanku Adalah Mertuaku Sendiri
— Dia Selalu memakai daster panjang bila di dalam rumah dan jika keluar
rumah mertuaku selalu mengenakan kebaya. Mertuaku adalah seorang janda
dengan kulit putih, cantik, lembut dan berwajah keibu ibuan.
Diapun
sangat baik padaku, dan aku diperlakukan sama dengan anak anaknya yang
lain. Bahkan tidak jarang bila aku kecapaian, dia memijat punggungku.
Sebenarnya semenjak aku masih pacaran dengan anaknya, aku sudah jatuh
cinta padanya Aku sering bercengkerama dengannya walaupun aku tahu hari
itu pacarku kuliah.
Setelah
aku kawin dengan anaknya dan memboyong istriku kerumah kontrakanku,
mertuaku rajin menengokku dan tidak jarang pula menginap satu atau dua
malam. Karena rumahku hanya mempunyai satu kamar tidur, maka jika
mertuaku menginap, kami terpaksa tidur bertiga dalam satu ranjang.
Biasanya Ibu mertua tidur dekat tembok, kemudian istri ditengah dan aku
dipinggir. Sambil tiduran kami biasanya ngobrol sampai tengah malam, dan
tidak jarang pula ketika ngobrol tanganku bergerilya ketubuh istriku
dari bawah selimut, dan istriku selalu mendiamkannya.
Bahkan
pernah suatu kali ketika kuperkirakan mertuaku sudah tidur, kami diam
diam melakukan persetubuhan dengan istriku membelakangiku dengan posisi
agak miring, kami melakukankannya dengan sangat hati hati dan suasana
tegang. Beberapa kali aku tepaksa menghentikan kocokanku karena takut
membangunkan mertuaku. Tapi akhirnya kami dapat mengakhirinya dengan
baik aku dan istriku terpuaskan walaupun tanpa rintihan dan desahan
istriku.
Suatu
malam meruaku kembali menginap dirumahku, seperti biasa jam 21.00 kami
sudah dikamar tidur bertiga, sambil menonton TV yang kami taruh didepan
tempat tidur. Yang tidak biasa adalah istriku minta ia diposisi pinggir,
dengan alasan dia masih mondar mandir kedapur. Sehingga terpaksa aku
menggeser ke ditengah walaupun sebenarnya aku risih, tetapi karena
mungkin telalu capai, aku segera tidur terlebih dahulu.
Aku
terjaga pukul 2.00 malam, layar TV sudah mati. ditengah samar samar
lampu tidur kulihat istriku tidur dengan pulasnya membelakangiku,
sedangkan disebelah kiri mertuaku mendengkur halus membelakangiku pula.
Hatiku berdesir ketika kulihat leher putih mulus mertuaku hanya beberapa
senti didepan bibirku, makin lama tatapan mataku mejelajahi tubuhnya,
birahiku merayap melihat wanita berumur yang lembut tergolek tanpa daya
disebelahku..
Dengan
berdebar debar kugeser tubuhku kearahnya sehingga lenganku menempel
pada punggungnya sedangkan telapak tanganku menempel di bokong,
kudiamkan sejenak sambil menunggu reaksinya. Tidak ada reaksi, dengkur
halusnya masih teratur, keberanikan diriku bertindak lebih jauh, kuelus
bokong yang masih tertutup daster, perlahan sekali, kurasakan birahiku
meningkat cepat. Penisku mulai berdiri dan hati hati kumiringkan tubuhku
menghadap mertuaku.
Kutarik
daster dengan perlahan lahan keatas sehingga pahanya yang putih mulus
dapat kusentuh langsung dengan telapak tanganku. Tanganku mengelus
perlahan kulit yang mulus dan licin, pahanya keatas lagi pinggulnya,
kemudian kembali kepahanya lagi, kunikmati sentuhan jariku inci demi
inci, bahkan aku sudah berani meremas bokongnya yang sudah agak kendor
dan masih terbungkus CD. DaunEmas
cerita seks — Tiba tiba aku dikejutkan oleh gerakan mengedut pada bokongnya sekali, dan pada saat yang sama dengkurnya berhenti.
Aku ketakutan, kutarik tanganku, dan aku pura pura tidur, kulirik
mertuaku tidak merubah posisi tidurnya dan kelihatannya dia masih tidur.
Kulirik istriku, dia masih membelakangiku, Penisku sudah sangat tegang
dan nafsu birahiku sudah tinggi sekali, dan itu mengurangi akal sehatku
dan pada saat yang sama meningkatkan keberanianku.
Cerita Dewasa Gadis ABG Cantik Yang Diperkosa | Rajangocok.com
RajaNgocok — Cerita Dewasa Gadis ABG Cantik Yang Diperkosa
— Jalan nasib tidak ada yang tahu, hasil kerja keras selama lima belas
tahun hilang tidak berbekas karena kebodohan aku mempercayai partner
kerjaku dan lebih parahnya lagi dia juga berhutang besar kepada bank
tapi dengan menggunakan nama dan asetku sebagai jaminannya. Sekarang aku
hanya dapat hidup terlunta-lunta di kota jakarta ini, tidak berani hati
ini melangkah pulang menghadap orang-orang sekampung apalagi melihat
emak dan bapak, aku berdoa semoga emak dan bapak masih sehat-sehat dan
tidak khawatir akan keadaanku di jakarta.
Namaku
Wandi, sudah lupa aku beningnya air di sungai tempat aku dulu memancing
bersama teman-temanku, air yang sejuk dengan kejernihan yang membuat
kami bisa dengan leluasa melihat ikan-ikan yang berenang mendekati
umpan-umpan kami. Sudah 24 tahun aku mengadu nasib di Jakarta, ketika
pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta aku berkeyakinan besar kalau
aku dapat sukses dan dapat kembali ke kampung sebagai orang besar yang
dapat membantu kehidupan emak dan bapak.
Sekarang
aku tinggal di sebuah gedung perkantoran yang sudah terbengkalai sejak
lama, aku menyambung hidup dengan bekerja serabutan, pernah aku menjadi
kuli bangunan di komplek perumahan di dekat sini, tetapi karena sekarang
kebanyakan rumah itu sudah selesai terpaksa pekerjaan aku sekarang
untuk menyambung hidup adalah hanya dengan menjadi tukang sampah di
komplek dulu bekerja. Di kompleks perumahan ini, aku satu-satunya tukang
sampah yang dapat memasuki perumahan ini, itu dikarenakan aku kenal
dengan beberapa satpam di perumahan ini mereka dulu bekerja sama dengan
aku ketika menjadi kuli bangunan mereka yang meminta kepada atasan
mereka untuk dapat tetap mempertahankan aku walaupun hanya menjadi
tukang sampah, “hahaha sial memang!” tertawa aku memikirkan mereka,
sungguh nasib mereka lebih bagus dari aku, karena mereka kelihatan lebih
kekar dan muda daripada aku mereka dapat mendapatkan pekerjaan yang
cukup layak di perumahan ini, sedangkan aku hanya dapat memunguti sampah
ketika para atasan busuk itu melihat aku sudah tidak muda dan kuat
lagi.
Di
pagi hari aku sudah keluar dari gedung reyot ini, ditemani oleh gerobak
berwarna oranye aku menyusuri komplek perumahan ini untuk sampah-sampah
dari setiap rumah di komplek ini, tidak jarang aku melihat mereka
membuang benda yang sebenarnya belum spenuhnya rusak terkadang hanya
karena tergores ataupun hanya karena warnanya pudar benda itu dibuang
oleh pemiliknya, makanya tidak jarang aku menemukan baju, sepatu, celana
bahkan handphone dan TV pernah dibuang oleh pemiliknya hanya karena
barang tersebut sudah dianggap kuno, aneh-aneh memang kebiasaan para
orang kaya ini, tapi tidak apa-apa semakin mereka seperti itu semakin
aku yang beruntung karena aku bisa mendapatkan barang-barang ini secara
gratis walaupun sudah agak tua dan terlihat jelek.
Suatu
ketika aku melewati sebuah rumah mewah di salah satu blok di perumahan
ini, aku melihat sesosok gadis cantik di belakang pagar rumahnya sedang
berjalan keluar sambil memegang kantung plastik berwarna putih kecil,
sejenak dia mencari-cari alas kakinya dan segera memakainya ketika
ditemukannya sendal tersebut terselip di bawah mobil yang terparkir di
garasinya, aku begituu terpesona dengan gadis ini. Dia menggunakan
celana pendek berwarna biru muda yang begitu menunjukkan kemulusan kaki
jenjang dan pahanya yang putih itu, kaus berwarna pink juga terlihat
cocok sekali membalut badannya yang tidak begitu besar tapi terlihat
lekukan badannya cukup tercetak di baju yang dipakainya, wajahnya manis
dan cantik sekali semuanya ditambah dengan kulitnya yang walaupun aku
melihat dari kejauhan aku tetap terperangkap oleh betapa cantiknya dia,
ditambah ketika dia mulai berjalan keluar ke arah pagar dan mulai
terkena sinar matahari aku makin takjub melihat kecantikannya dengan
lebih jelas. kulit putihnya makin bersinar terang ketika terkena sinar
matahari, pahanya dan tengkuknya juga semakin terlihat sangat menggoda
mata, dadanya yang dibalut oleh kaus pink juga dan bra juga makin
terlihat jelas aku dapat melihat lekukan dada yang dibentuk oleh bra
yang ia pakai, menurut perkiraan aku ukuran cup BH’nya mungkin 34B.
terdiam aku beberapa saat memandangi pemandangan ini, lambat laun aku
mulai tersadar ketika gadis cantik ini berjalan keluar dan mengantungkan
kantong plastik kecil yang ia bawa ke gantungan sampah di depan
rumahnya. Perlahan aku memberanikan diri menarik gerobak sampah di
belakang ku mendekati rumah gadis tersebut.
ketika
aku sampai disanna gadis itu telah berjalan masuk kerumahnya, aku tetap
memperhatikan dia dan makin terasa cantik gadis ini di setiap langkahku
bertambah mendekati rumahnya. Di balik pagar setelah dia menutupnya dia
tersenyum kecil sambil menganggukan kepala ketika melihat aku mendekat,
ternyata gadis cantik ini benar-benar sangat amat cantik dan baik hati
bahkan kepada aku yang hanya tukang sampah komplek dia tidak ragu-ragu
untuk melemparkan senyum dan mengangguk sejenak, padahal dia adalah anak
orang kaya dan seorang gadis yang cantik luar biasa. Makin hati ini
tertawan oleh pesonanya, luarr biasa gadis ini.
Aku
tidak dapat berbuat apa-apa hanya pelan-pelan melihat dia melangkah
kembali masuk ke dalam rumahnya. Terdiam lama aku berdiri disana di
depan rumahnya di bawah terik matahari yang beranjak menuju siang hari, aku benar-benar terperangkap oleh gadis itu aku jatuh cinta pada pandangan yang pertama..,
cinta sebuah kata dan perasaan yang sudah lama tidak aku rasakan dan
ucapkan aku ingin membingkai senyum gadis itu dan melihat senyum tiap
hariku…, aku ingin melindunginya agar senyum itu dapat terus mengembang dan mencerahkan dunia ini…
Tetapi jauh di dalam perasaan itu di bawah sadar sebenarnya ada perasaan lain yang jauh lebih gelap dan kotor: aku ingin merasakan tubuh ini bersentuhan dengan tubuhnya… aku ingin merasakan manis bibirnya… aku ingin mencumbu dadanya… aku ingin merasakan halus dadanya…. aku ingin…aku ingin…aku ingin…
tersadar
aku dari lamunan aku, aku cepat-cepat mengingatkan diri akan tugasku
sebagai tukang sampah dan hanya sebagai tukang sampah, aku membuang
jauh-jauh lamunan itu biarlah itu menjadi impian di siang bolong. Aku
bergerak mendekati tempat sampah di depan rumahnya, dengan cekatan aku
menarik kluar tongkat sampah dari gerobak sampah, ya walaupun aku tukang
sampah terkadang aku masih merasa jijik jika harus menggunakan langsung
tanganku untuk menyentuh bungkusan plastik-plastik sampah ini. satu bungkus plastik sampah… dua bungkus plastik sampah…
dengan cepat aku dengan gampang memindahkan plastik-plastik sampah
tersebut dari tempatnya ke dalam gerobak sampah, tinggal kantong plastik
yang terakhir yang belum aku masukkan.
terdiam
aku melihat kantong plastik itu, aku tau bahwa itu adalah kantong
plastik yang tadi dibawa keluar oleh gadis cantik itu, plastik yang
secara ukuran lebih kecil daripada plastik yang sudah aku pindahkan
sebelumnya. Entah mengapa aku merasakan ini adalah plastik yang spesial,
mungkin karena kantong plastik ini adalah satu-satunya benda yang
pernah dipegang oleh jari jenjang dan tangan dari gadis itu. Perlahan
aku memincingkan mata melihat kantong plastik putih itu, aku berusaha
melihat apa yang dibungkus oleh kantong plastik itu, terlihat ada
bungkusan biru tua di dalam plastik putih itu aku memiringkan kepala
untuk mencoba membaca tulisan apa yang tertulis di bungkusan biru tua
itu.
tertulis tulisan:
“Laurier” dibawahnya tercetak tulisan “Relax night with gathers…”, “opo iki??”…pikirku berusaha menebak apa sebenarnya bungkusan ini
dan di bawahnya lagi tertulis “daya serap maksimal, proteksi dari
segala arah dan anti bocor”, “oohh oyalahh…” tersadar aku benda apa itu
sebenarnya di dalam bungkusan plastik itu
Terlihat
juga gambar benda yang sedang aku pikirkan itu dengan tulisan “35cm” di
atasnya, makin aku yakin bahwa itu adalah bungkus pembalut.
agak
jijik aku memikirkannya ketika aku tau itu adalah bungkusan pembalut,
dan kemungkinan besar di dalamnya pun ada pembalut bekas yang dipakai
oleh gadis cantik itu. Secantik cantiknya wanita itu, tetap saja aku
agak jijik jika memikirkan pembalut bekasnya dengan darah menstruasinya
yang mungkin ada juga di pembalut tersebut….
Ketika aku sedang memikirkan itu tiba-tiba terdengar suara, entah dari mana yang tiba-tiba berteriak Daunemas
“WANITA dan DARAH…!”
Cerita Seks
— aku langsung terperanjat, tapi badanku tidak bisa bergerak padahal
aku mau mencari dimana sumber suara itu…aku merasakan ada desiran angin
di tengkuk leherku dan membuat aku merinding padahal ini adalah siang
hari yang terik.
Cerita Dewasa Nikmatnya Bertukar Pasangan | Rajangocok.com
RajaNgocok — Cerita Dewasa Nikmatnya Bertukar Pasangan
— Kami adalah pasangan suami istri yang bahagia dalam perkawinan kami
dan sama sama saling mecintai, tetapi dalam kehidupan sex, kami pasangan
yang open-minded alias tanpa prasangka, dan suka mengexplor gairah sex
kami.
Gw
merupakan seorang istri dengan seorang anak yang masih kecil. Umur gw
masih belia, yaitu 27 tahun!hihii… namun diusigw ini body gw masih
termasuk kategori sexy dan montok dan Suamiku umur 29 tahun, belakangan
ini kami telah melgwkan tukar pasangan dengan pasangan lain, dengan
hasil yang merangsang selera libido sex kami. Pada saat gw disetubuhi
oleh pria lain gw sengaja memperlihatkan kontolnya lelaki itu masuk
dalam liang memek ku, dan itu membuatnya on dan terangsang sekali, dan
juga pada saat kuoral kontol dengan nafsu dan menyemprot spermanya di
mulutku atau dimuka gw. Tapi sebaliknya gw juga nikmat melihat dia di
oral ama cewek lain.
Pada
hari sabtu teman business suami gw namanya Anton ulang tahun yang ke
27, dia tergolong pria muda yang cepat melejit menjalankan usahanya.
Mengadakan pesta ulang tahunnya di sebuah diskotik ternama dan terkenal
di jakarta, dia mengundang kami dan beberapa teman dekatnya, juga rekan
bisnisya. Ada beberapa dari mereka yang kami kenal, ketemu beberapakali,
pada saat gw menemani suami sgw kerja. Mereka masih tergolong muda yang
paling tua umur 31, seperti Alit 25 tahun tampan tubuh atletik juga di
undang.
Hari
sabtu gw mempersiakan diri gw agak sexy untuk hangout ntar malam,
dengan mengunakan rok mini berwarna merah menyala dan agak transparan
dan celana dalam jenis G-string yang matching, kucukur bulu memek gw
sampai halus agar tidak kelihatan keluar dari G-string dan memakai
minyak wangi agar badan berbau wangi dan exotic gw siap untuk hangout.
Begitu suami melihat gw berhenti sejenak dengan expresi terpesona, wah
wah gwng lo kelihatan sexy sekali malam ini. Gw senyum sambil mengoda
dia dengan bungkuk dan mengoyangkan pantat gw yang sexy kekanan kekiri
kaya penari striptise, dan berkata “mau gwng” he3
Dan
kita berangkat dan tiba di TKP, dan kamipun segera menuju keruangan
yang telah dibooking Anton. Saat kami masuk ruang yang exclusive itu,
dengan sofa yang kelihatannya nyaman, dan para tamu sudah datang
termasuk Alit yang membawa pasangan dia Wulan berumur 20 tahunan,
tubuhnya sangat sexy dengan bentuk payudara yang menonjol ukuranya
sekitar 36 B dan muka yang manis dan sangat cantik, Wulan memakai rok
mini coklat dengan sepatu hak tinggi coklat. Tapi aneh gw merasah semua
laki laki di situ memandang ke gw, dan gw merasa dilihat dari ujung kaki
sampai ujung dada, kami di perkenalkan sama Anton kepada teman2 nya,
Agus umur 24 thn tampang ABG banget cukup ganteng, Roni umur 30 thn
dengan penampilam bersih dan rapi, dan tentu Alit yang sudah gw kenal
sebelumnya! dia merangkul dan mencium pipiku, sambil membuatku terkejut
tangan kanan dia meraba dan meremas pantatku tanpa sepengetahuan
suamiku, itu membuatku malu, terangsang dan pipiku memerah.
Tak
lama kemudian cewek masuk dengan pakaian sangat sexy sepatu boot hitam
yang tinggi selutut, dada membusung kedepan, dan berjalan dengan PD
sekali bernama Putri (menurut gw Putri orangnya sangat liar, cantik dan
centil), kata suamiku itu cewek stripper untuk mebuat malam lebih asik.
Setelah semua duduk di sofa yang telah tersedia botol miniman dan gelas
yang sudah penuh minuman. Alit bediri dan mengambil minuman yg dimeja
dan bersulang untuk ulang tahunnya Anton, semua bertepuk tangan dan
mengambil minuman, dengan lampu di padamkan sedikit agar remang remang,
dan kami semua minum, Anton bilang “Habiskan yaaa” minumannya sangat
terasa sekali alkoholnya. Dan setelah kami semua minum habis Alit
tertawa sambil berkata “nikmati malam ini karena minuman itu telah
dicampur Inek hadiah dari Anton” kami semua berseru mantabssss!!!. Saat
itu juga lagu techno membuat suasana menjadi tambah hidup!
Gak
lama badanku merasa ringan tangan mulai dingin, dan perasaan enak dan
horny mulai terasa emang setiap dikasi inex bawaan gw horney aja. Dan
kamipun berdiri sambil berpelukan dan bergoyang dalam irama denyutan
music yang ada. Baru terasa dada suami gw bergesekan dengan dada gw,
membuatnya putingku berdiri tegak dan seirama dengan dada gw menyeterum
ke memek ku mulai terasa basah. Tiba2 suami melepaskan gw untuk
mengambil minum di meja. Sendiri gw bergoyang didepan dan serasa semua
mata laki2 disitu melihat gw Alit, Agus, Roni, dan Anton, gwpun mulai
bergoyang lebih erotis dan memeluk org didekat gw, tanpa sadar Putri
sang stripper bergoyang dan merangkul gw, karena gw asik aja, kita
berdua bergoyang erotis berdempetan dan tangan Putri berada didada gw yg
berdiri on. Gw melihat suamiku lagi asik dengan Wulan meraba raba
pantatnya sambil bergoyang diantara selangkangan Wulan dan Wulanpun
memegang kepala suami gw didepan dadanya yang montok sambil digoyangkan.
Gw pun tak perdulikan gw lagi didunia enak banget.
Tak
sadar kalau Anton mendekat dan gabung ama kita berpelukan sambil tangan
kanannya berada di dalam rok mini Putri. Dan yang kiri memelukku dari
pundak dan tangannya meremas remas dada gw dan gw sangat menikmatinya !
Anton meninggalkan kita dan tanpa gw sadar memberi aba aba ke Putri
untuk mulai melepaskan pakaiannya (striptease), Putri mulai bergoyang
lebih erotis didepan gw dan mengunakan tubuhku seakan akan gw cowok, dia
melekuk lekuk sambil meraba tubuhku dari leher, ke dada, dan ke
pantatku berulangkali dia lakukan itu Putri meminta gw untuk membuka
kancing rok mini yang dia kenakan, dengan kondisi horny dan fly gw
turuti, dan terdengar suara siul2 dari cowok cowok, sampai kancing
terahir rok mini Putri kubuka dan sekarang kelihatan jelas BH berwarna
hitam dan CD tembus pandang berwarna hitam yang memperlihatkan memeknya
yang tanpa bulu sehelaipun. Dengan gaya erotis Putri menjilat, dan
memilin dada gw dan putting ku dari luar rokku sambil bergoyang goyang
erotis, sedangkan tangannya meraba raba pantat gw sambil menaikan rok
miniku sampai terlihat G-stringku seirama denyutan music yang ada, dan
sekali kali meraba memek gw dengan jarinya secara lembut dan erotis dari
luar CDku (hal itu membuat memek gw on dan basah). Gw merasa sudah
didunia nikmat dan gak perduli yang melihat gw. Gw berbalik untuk
melihat suasana dan suamiku yang masih dengan Wulan, dia sedang meraba
raba dada Wulan dari dalam BHnya dan tangan satunya berada
diselangkangan Wulan sedang memainkan memeknya, kulihat suamiku sedang
on berat dan horny banget kayaknya.
Kembali
gw menikmati goyangan serta rabaan Putri kepada tubuhku. ternyata Putri
telah melepaskan BH dan CDnya dan bergoyang telanjang bulat, siulan
kembali ku dengar dan membuatku lebih liar dan berani. Putri mulai
melepaskan rokku dengan pelan dan lembut dan berhenti pada kancing yang
didepan perutku, membuat BHku kelihatan bagi yang mau lihat dada gw,
dengan cepat dan lembut Putri telah melepaskan kaitan belakang BHku dan
BHku jatuh kelantai memperlihatkan dada gw yang Putri dengan putin yg
sedang berdiri menunjukan betapa hornynya gw, ceritasexdewasa.org dengan
gerakan erotisnya Putri bergoyang dengan memainkan dada dan memilin
putinku yang telanjang sambil diisep, dan dijilat dengan lembut, dengan
tangannya bergerak untuk melepaskan rokku dari pundakku, dengan
kenikmatan yang ku rasakan gw tidak memperdulikan rok miniku jatuh ke
lantai, membuat gw topless dan bergoyang hanya dengan G-stringku. Daunemas
Cerita Seks
— Gerakan Putri tambah hot dan erotis melekuk lekuk dan mengerakan
pinggangnya seolah olah dia lagi fishing gw, dan tambah ganas Putri
mengisep isep dada gw dan tangannya mengelus elus vagina gw sambil
jarinya keluar masuk, dia tahu betapa basahnya vagina gw, yang sudah
keluar lendir menembus G-stringku. Gw buka mata gw gw melihat Alit
berada di belakang Putri dengan tangan yang bergerilia ke dada dan
memeknya, dan mencium Putri dengan lidah dijulurkan kemulutnya yg
disambut juga dengan lidah Putri didepan mata gw. Gw termenung melihat
mereka sampai gw tak sadar kalau Putri melepaskan G-Stringku, yang
membuatku telanjang bulat dan bergoyang, gw segera melihat reaksi
suamiku yang ternyata dia lagi sibuk sendiri dengan Wulan yang sekarang
juga tidak memakai sehelai pakaianpun, dan lagi mengoral suamiku sambil
mengocok kontolnya, dan Agus pun menunggu giliranya
Cerita Dewasa Nikmatnya Tante Suvii | Rajangocok.com
RajaNgocok — Cerita Dewasa Nikmatnya Tante Suvii
— Aq mendapat kisah yang asyk dan tak bisa terlupakan padahal kisah itu
terjadi kira kira 1 tahun yang lalu tapi rasanya baru kemarin aq
rasakan, cerita ini berkisah tentang istri dari pamanku dimana pamanku
baru saja melangsungkan pernikahannya walaupun bisa dikata telat, karena
umurnya suah rada tua.
Pamanku
terbilang orang sukses karena dalam bisnisnya lancer semua, mungkin
sebab itu pamanku sibuk ke bisnisnya sampai lupa pendamping hidupnya,
sudah disarankan kepada keluarganya dan dipilihakn wanita tapi selalu
saja ada pertimbangan yang khusus dari paman sendiri, minta ini minta
itu dan pada suatu saat paman membawa wanita yang sangat cantik.
Namanya
Suvii seperti namanya dia juga cantik, tak cantik pula dia juga supel
kepada kami, dia berusia 24 tahun dan saat itu ia bekerja sebagai
sekretaris di perusahaan teman pamanku itu.
Kemudian
kami bercakap-cakap, ternyata Suvii memang enak untuk diajak ngobrol.
Dan aq melihat sepertinya pamanku tertarik sekali dengannya, karena aq
tahu matanya tidak pernah lepas memandang wajah Suvii.
Tapi
tidak demikian halnya dengan Suvii. Ia lebih sering memandangku,
terutama ketika aq berbicara, tatapannya dalam sekali, seolah-olah dapat
menembus pikiranku. Aq mulai berpikir jangan-jangan Suvii lebih
menyukaiku.
Tapi
aq tidak dapat berharap banyak, soalnya bukan aq yang hendak
dijodohkan. Tapi aq tetap saja memandangnya ketika ia sedang berbicara,
kupandangi dari ujung rambut ke kaki, rambutnya panjang seperti gadis di
iklan sampo, kulitnya putih bersih, kakinya juga putih mulus, tapi
sepertinya dadanya agak rata, tapi aq tidak terlalu memikirkannya.
Tidak
terasa hari sudah mulai malam. Kemudian sebkamum mereka pulang, pamanku
mentraktir mereka makan di sebuah restoran chinese food di dekat
rumahnya di daerah Sunter. Ketika sampai di restorant tersebut, aq
langsung pergi ke wc dulu karena aq sudah kebelet. Sebkamum aq menutup
pintu, tiba-tiba ada tangan yang menahan pintu tersebut. Ternyata adalah
Suvii.
“Eh, ada apa Yu?”
“Enggak, aq pengen kasih kartu nama aq, besok jangan lupa telpon aq, ada yang mau aq omongin, oke?”
“Kenapa enggak sekarang aja?”
“Jangan, ada paman kamu, pokoknya besok jangan lupa.”
Setelah
acara makan malam itu, aq pun pulang ke rumah dengan seribu satu
pertanyaan di otakku, apa yang mau diomongin sama Suvii sih. Tapi aq
tidak mau pikir panjang lagi, lagipula nanti aq bisa-bisa susah tidur,
soalnya kan besok harus masuk kerja.
Besoknya saat istirahat makan siang, aq meneleponnya dan bertanya langsung padanya.
“Eh, apa sih yang mau kamu omongin, aq penasaran banget?”
“Eeee, penasaran ya, Ton?”
“Iya lah, ayo dong buruan!”
“Eh, slow aja lagi, napsu amet sih kamu.”
“Baru tahu yah, napsu aq emang tinggi.”
“Napsu yang mana nih?” Suvii sepertinya memancingku.
“Napsu makan dong, aq kan bkamum sempat makan siang!”
Aq
sempat emosi juga rasanya, sepertinya ia tidak tahu aq ini orang yang
sangat menghargai waktu, terutama jam makan siang, soalnya aq sambil
makan dapat sekaligus main internet di tempat kerjaq, karena saat itu
pasti bosku pergi makan kkamuar, jadi aq bebas surfing di internet,
gratis lagi.
“Yah
udah, aq cuma mau bilang bisa enggak kamu ke apartment aq sore ini abis
pulang kerja, soalnya aq pengen ngobrol banyak sama kamu.”
Aq tidak habis pikir, nih orang kenapa tidak bilang kemarin saja.
Lalu kataq, “Kenapa enggak kemarin aja bilangnya?”
“Karena aq mau kasih surprise buat kamu.” katanya manja.
“Ala, gitu aja pake surprise segala, yah udah entar aq ke tempat kamu, kira-kira jam 6, alamat kamu di mana?”
Lalu
Suvii bilang, “Nih catet yah, apartment XXX (edited), lantai XX
(edited), pintu no. XXX (edited), jangan lupa yah!””Oke deh, tunggu aja
nanti, bye!”
“Bye-bye Ton.”
Setelah
telepon terputus, lalu aq mulai membayangkan apa yang akan dibicarakan,
lalu pikiran nakalku mulai bekerja. Apa bisa aq menyentuhnya nanti,
tetapi langsung aq berpikir tentang pamanku, bagaimana kalau nanti
ketahuan, pasti tidak enak dengan pamanku. Lalu aq pun mulai tenggelam
dalam kesibukan pekerjaanku.
Tidak
lama pun waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, sudah waktunya nih,
pikirku. Lalu aq pun mulai mengendarai motorku ke tempatnya. Lumayan
dekat dari tempat kerjaq di Roxymas. Sesampainya di sana, aq pun
langsung menaiki lift ke lantai yang diberitahukan. Begitu sampai di
lantai tersebut, aq pun langsung melihatnya sedang membuka pintu
ruanganya.
Langsung saja kutepuk pundaknya, “Hai, baru sampe yah, Yu..”
Suvii tersentak kaget, “Wah aq kira siapa, pake tepuk segala.”
“Kamu khan kasih surprise buat aq, jadi aq juga mesti kasih surprise juga buat kamu.”
Lalu ia mencubit lenganku, “Nakal kamu yah, awas nanti!”
Kujawab saja, “Siapa taqt, emang aq pikirin!”
“Ayo masuk Ton, santai aja, anggap aja rumah sendiri.” katanya setelah pintunya terbuka.
Ketika
aq masuk, aq langsung terpana dengan apa yang ada di dalamnya, kulihat
temboknya berbeda dengan tembok rumah orang-orang pada umumnya,
temboknya dilukis dengan gambar-gambar pemandangan di luar negeri. Dia
sepertinya orang yang berjiwa seniman, pikirku. Tapi hebat juga kalau
cuma kerja sebagai sekretaris mampu menyewa apartment. Jangan-jangan ini
cewek simpanan, pikirku.
Sambil aq berkeliling, Suvii berkata, “Mau minum apa Ton?”
Sementara
ia sedang membuat minuman, mataq secara tidak sengaja tertuju pada rak
VCD-nya, ketika kulihat satu persatu, ternyata lebih banyak film yang
berbau porno. Aq tidak sadar ketika ia sudah kembali, tahu-tahu ia
nyeletuk, “Ton, kalo kamu mau nonton, setel aja langsung..!”
Aq tersentak ketika ia ngomong seperti itu, lalu kubilang, “Apa aq enggak salah denger nih..?”
Lalu katanya, “Kalo kamu merasa salah denger, yah aq setelin aja sekarang deh..!”
Lalu
ia pun mengambil sembarang film kemudian disetelnya. Wah, gila juga nih
cewek, pikirku, apa ia tidak tahu kalau aq ini laki-laki, baru kenal
sehari saja, sudah seberani ini.
“Duduk
sini Ton, jangan bengong aja, khan udah aq bilang anggap aja rumah
sendiri..!” kata Suvii sambil menepuk sofa menyuruhku duduk.
Kemudian
aq pun duduk dan nonton di sampingnya, agak lama kami terdiam
menyaksikan film panas itu, sampai akhirnya aq pun buka mulut, “Eh Yu,
tadi di telpon kamu bilang mau ngomong sesuatu, apa sih yang mau kamu
ngomongin..?”
Suvii
tidak langsung ngomong, tapi ia kemudian menggenggam jemariku, aq tidak
menyangka akan tindakannya itu, tapi aq pun tidak berusaha untuk
melepaskannya.
Agak
lama kemudian baru ia ngomong, pelan sekali, “Kamu tau Ton, sejak
kemarin bertemu, kayaknya aq merasa pengen menatap kamu terus, ngobrol
terus. Ton, aq suka sama kamu.”
“Tapi
khan kemarin kamu dikenalkan ke Paman aq, apa kamu enggak merasa kalo
kamu itu dijodohin ke Paman aq, apa kamu enggak lihat reaksi Paman aq ke
kamu..?”
“Iya,
tapi aq enggak mau dijodohin sama Paman kamu, soalnya umurnya aja beda
jauh, aq pikir-pikir, kenapa hari itu bukannya kamu aja yang dijodohin
ke aq..?” kata Suvii sambil mendesah.
Aq
pun menjawab, “Aq sebenarnya juga suka sama kamu, tapi aq enggak enak
sama Paman aq, entar dikiranya aq kurang ajar sama yang lebih tua.”
Suvii diam saja, demikian juga aq, sementara itu film semakin bertambah panas, tapi Suvii tidak melepaskan genggamannya.
Lalu
secara tidak sadar otak pornoku mulai bekerja, soalnya kupikir sekarang
kan tidak ada orang lain ini. Lalu mulai kuusap-usap tangannya, lalu ia
menoleh padaq, kutatap matanya dalam-dalam, sambil berkata dengan
pelan, “Suvii, aq cinta kamu.”
Ia
tidak menjawab, tapi memejamkan matanya. Kupikir ini saatnya, lalu
pelan-pelan kukecup bibirnya sambil lidahku menerobos bertemu lidahnya.
Suvii pun lalu membalasnya sambil memkamukku erat-erat. DaunEmas
Cerita Seks—
Tanganku tidak tinggal diam berusaha untuk meraba-raba buah dadanya,
ternyata agak besar juga, walaupun tidak sebesar punyanya bintang film
porno. Suvii menggeliat seperti cacing kepanasan, mendesah-desah
menikmati rangsangan yang diterima pada buah dadanya.
Cerita Dewasa Supir Taksi Yang Meniduri Penumpangnya
RajaNgocok — Cerita Dewasa Supir Taksi Yang Meniduri Penumpangnya — kehidupan di dunia memang berjalan seperti nasehat Sang Budha di atas. Setidaknya itulah romantika kehidupan yang dialami kedua tokoh dalam cerita kita kali ini. Tokoh yang pertama adalah Faried, seorang sopir taksi berusia 31 tahun yang melewatkan hari demi hari kehidupannya dengan beragam nuansa: terkadang sangat melodramatis, romantis, sentimentil, bahkan lucu.
Selama
bekerja sebagai sopir taksi di ibukota selama beberapa tahun Faried
telah banyak menemui kejadian yang menegaskan fenomena itu. Suatu
ketika, ia mengembalikan dompet seorang ibu yang ketinggalan di
taksinya.Sesungguhnya, ia tidak mengharapkan keuntungan apa-apa dari
situ, sebab baginya kejujuran dan kepolosan sudah menjadi bagian
integral dari jiwa, tubuh dan segenap aktifitas kesehariannya.
Kalau
pun kemudian, si ibu dengan ekspresi wajah lega dan ucapan terima kasih
tak terhingga, lalu memberikan uang sebagai penghargaan atas ‘jasa’
nya, dan kemudian dengan halus si sopir itu menolaknya, itu semata-mata
karena apa yang telah ia lakukan sudah menjadi tugasnya. Komitmen Faried
untuk menjunjung tinggi ‘harkat ke-supir taksi-an’ saya, tak lebih.
Pada kesempatan lain, ia menolong seorang korban kecelakaan lalu lintas
di depan kampus sebuah perguruan tinggi.
Ia
segera membawanya ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat, dengan
tidak memperhitungkan lagi berapa tarif taksi yang dapat diperolehnya
bila ia tetap mengabaikan kejadian itu. Semua terasa seperti tindakan
‘bawah sadar’ yang telah terbentuk sedemikian rupa selama
bertahun-tahun, sejak ayahnya yang telah almarhum menanamkan nilai-nilai
kearifan tradisional dalam diri Faried.
Hari
itu Faried kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Untuk yang
satu ini memang bukan rutinitas yang lazim, karena setiap petang tiba,
ia menjemput Ayu (25 tahun), tokoh sentral berikutnya, yang adalah
seorang wanita panggilan ‘kelas atas’ yang tinggal di sebuah rumah mewah
di sebuah kompleks pemukiman real estate, untuk kemudian membawanya ke
suatu tempat, di mana saja, yang telah disepakati sebelumnya oleh
pelanggan setianya itu. Ayu sudah menyewa taksi Faried selama enam
bulan.
Jadi
pada jam-jam tertentu–biasanya petang hari–Faried menjemputnya di rumah
tersebut, membawanya ke tempat yang senantiasa berbeda-beda tergantung
mana yang ditunjuk wanita itu, lantas mengantarnya kembali pulang
setelah ‘bisnis’-nya usai pada jam-jam tertentu pula. Ayu membayar cukup
mahal untuk tugas tersebut dan Faried menerima itu sebagai bagian tak
terpisahkan dari harkat ‘ke-supir taksi-an’ nya. Ia tidak menganggap itu
sebagai kerja yang hina lantaran menerima bayaran dari hasil desah dan
keringat maksiat Ayu. Ini bagian dari tugas, demikian ia mencari alasan
pembenarannya. Faried selalu menganggap persetan dengan semua anggapan
sinis tentang dirinya. Baginya, ia tetap memiliki hak untuk menentukan
sikap dan melakukan apa yang terbaik bagi
dirinya
sendiri. Prinsip sederhana memang tapi logis. Sudah empat bulan lamanya
Faried melakukan ‘tugas rutin’ itu. Ia sudah berusaha menghilangkan
beban psikologis apa pun termasuk perasaan cinta. Terus terang sebagai
seorang pria, Faried memang tidak dapat mengingkari kata hati bahwa Ayu
memang cantik dan diam-diam ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Dengan rambut sebahu, wajah oval proporsional, hidung bangir, kulit
putih dan postur tubuh ramping semampai, Ayu tampil mempesona mata
setiap pria yang melihatnya, termasuk dirinya. Sebagai lelaki bujangan
dan normal, Faried tidak dapat menepis getar-getar aneh saat wangi
parfum Ayu yang khas menyerbu hidung ketika ia masuk ke taksinya. Tapi
ia berusaha menekan perasaan itu sekuat-kuatnya. Terlebih, ketika
muncul rasa cemburu, saat Ayu terlihat digandeng oom-oom kaya yang lebih
pantas menjadi ayahnya. Faried seyogyanya harus menempatkan diri pada
posisi yang benar: ia adalah pelanggan dan saya hanya supir taksi. Maka
ia mematuhi ‘rambu-rambu’ itu secara konsisten. Terlebih secara fisik
dan finansial ia kalah jauh dibanding Ayu, mana mungkin wanita gedongan
dan sudah terbiasa menikmati kemewahan seperti Ayu mau dengan sopir
taksi miskin dengan tampang ndeso seperti dirinya, bukankah itu bagaikan
pungguk merindukan bulan? Faried cukup tahu diri mengenai hal ini.
Percakapan mereka pun, baik ketika pergi maupun pulang, biasa-biasa
saja. Tak ada yang istimewa, bahkan nyaris bersifat rutin. Faried
berusaha menjaga jarak dengan Ayu agar tidak terlibat lebih jauh ke
masalah yang sifatnya terlalu pribadi. Namun belakangan ini sudah ada
sedikit ‘peningkatan kualitas pembicaraan’. Tidak hanya sekedar, ‘Mau ke
mana?’ atau ‘Jam berapa mau dijemput?’, dan sebagainya. Ayu mulai
menanyakan latar belakang pribadi sang sopir langganannya itu hingga
menanyakan ada berapa jumlah penumpang di taksinya untuk hari ini. Tentu
Faried pun ada rasa gembira pada perkembangan menarik ini. Mulanya sang
sopir agak rikuh tapi perlahan ia mulai dapat menyesuaikan diri dan
menjadi pembicara atau pun pendengar yang baik.
Seiring
berjalannya waktu, hubungan emosional mereka pun berlangsung hangat.
Ayu mulai tak canggung-canggung mengungkap riwayat hidupnya pada si
sopir. Ia ternyata produk keluarga broken home. Ayah dan ibunya bercerai
,ibunya kabur bersama pria lain sehingga ia ikut ayahnya yang pemabuk
dan tukang main pukul. Ia tidak tahan dan prihatin dengan kondisi
seperti itu sehingga memutuskan untuk minggat dari rumahnya dan mengadu
nasib ke ibukota. Kuliahnya pun tidak selesai. Awalnya ia tinggal di
rumah seorang famili jauhnya dan mulai mencari pekerjaan agar dapat
mandiri.
“Saya harus terus hidup dan berjuang”, kata Ayu menetapkan hati.
Bermodalkan
kecantikan dan keindahan tubuhnya, ia menjadi SPG lalu tak lama mulai
memasuki dunia model. Foto-foto dirinya pernah menghiasi majalah
fashion, lifestyle hingga majalah pria dewasa. Selain itu ia juga
mendapat peran kecil dalam beberapa sinetron lokal. Namun, tanpa
disadarinya, perlahan namun pasti ia terjerumus ke lembah nista.
Kehidupan malam dan hingar bingar pesta, sepertinya memberikan
keleluasaan baru dan ia bagai memperoleh jati diri di sana. Sejak itu
Ayu pun dikenal sebagai model plus-plus, ia menjadi primadona di
kalangan atas. Hampir semua klien-nya siap melakukan apa pun untuk
berkencan dengannya. Belakangan, ia kemudian menjadi ‘simpanan’ seorang
direktur sebuah bank swasta ternama di negeri ini, dengan tip dan
bayaran yang sangat besar plus rumah mewah komplit segala isinya. Sang
Direktur hanya datang pada waktu-waktu tertentu saja untuk menemui Ayu.
Meskipun begitu, profesinya tak juga ditinggalkan, selain menjadi model
ia menjadi wanita panggilan kelas atas.
“Saya menyukai pekerjaan ini,” katanya suatu ketika, suaranya terdengar serak dan terkesan dipaksakan.
Faried melirik melalui kaca spion, wanita cantik itu duduk santai di
belakang, menyelonjorkan kaki dan menyalakan rokok. Faried tersenyum dan
kembali mengalihkan pandangan ke depan. Ayu tak menjelaskan lebih jauh
pernyataan yang telah dikeluarkan. Hanya kepalanya terangguk-angguk
pelan menikmati lagu melankolis ‘When A Man Loves A Woman’-nya Michael
Bolton yang mengalun dari radio di tape mobil Faried.
“Omong-omong…Abang sudah punya pacar atau udah berkeluarga?” tanyanya tiba-tiba.
Kontan Faried gelagapan dan agak kehilangan konsentrasi mengemudi.
“Saya sih udah cerai Mbak” ia menjawab tersipu, “ya waktu masih di kampung dulu sampai sekarang yah ginilah, masih sendiri”
Sebuah
jawaban yang jujur terlontar dari mulut si sopir itu. Ayu terkekeh. Ia
menghirup rokoknya dalam-dalam. Rimbun asapnya mengepul-ngepul, memenuhi
kabin taksi. Faried menelan ludah.
“Kalau Mbak Ayu sendiri bagaimana?” ia balik bertanya.
“Abang
tahu sendiri, kan? Banyak. Banyak sekali,” sahut Ayu, suaranya
terdengar hambar, kedengarannya ia seperti melontarkan sebuah lelucon
atau apologi? entahlah
“Banyak memang. Tapi hampa,” Faried menanggapi dengan getir.
Untuk
beberapa saat Ayu terdiam. Ia mematikan rokoknya, lalu merenung…lama.
Hanya deru mesin mobil dan getar alat air conditioner taksi terdengar.
Lalu lintas di larut malam itu memang telah sepi. Sebagian lampu jalan
telah dipadamkan. Faried tiba-tiba menyadari kecerobohan dan
kelancanganya, maklum sebagai orang kampung ia terbiasa bicara
ceplas-ceplos apa adanya.
“Eh…maaf ya Mba,apa saya….”
“Nggak
apa-apa Bang. Itu emang benar, mereka hampa, cuma punya tubuh dan
nafsu, bukan jiwa dan cinta,” Ayu bertutur dengan lirih.
Faried menghela nafas panjang, ia merasa dadanya sesak, simpati pada nasib wanita secantik Ayu harus bernasib demikian.
“Hidup menawarkan banyak pilihan, Mbak.”
“Tapi saya tak punya pilihan!” sangkal Ayu dengan nada suaranya meninggi.
“Kearifan
menyikapi dengan landasan moral, itu kunci untuk memilih. Kita memang
tak akan pernah tahu apakah pilihan hidup kita sudah tepat. Tapi
setidaknya, kita mesti punya pegangan yang kokoh untuk menentukan ke
mana kita mesti melangkah,” Faried berkata lembut berusaha menghiburnya.
Terdengar
nafas berat Ayu di belakang. Suasana terkesan kering dan kaku.Keduanya
tak bercakap-cakap lagi hingga taksi Faried tiba di gerbang depan rumah
yang dituju.
Ayu hanya mengucapkan ‘Selamat malam. Sampai jumpa besok sore’.
Faried
pun pulang ke rumah kontrakannya dengan rasa bersalah yang bertumpuk,
sepertinya ia telah menyinggung wanita itu dengan omongannya. Ketika
selesai tugas malam itu, ia menemukan sebuah lipstick di lantai belakang
taksinya.
Keesokan harinya
Hari
itu adalah hari terakhir kontrak sewa Faried dengan Ayu. Ia menjalani
rutinitas ekstranya seperti biasa, ia menjemput Ayu pada waktu dan
tempat yang sama.
“Maaf, apa ini punya Mbak? Kemarin saya nemuin di belakang” kata Faried sambil menunjukkan lipstick yang dipungutnya kemarin
“Ohh…iya
benar, makasih ya Bang, sepertinya jatuh waktu saya ngambil rokok
kemarin” Ayu tersenyum berterima kasih seraya mengambil lipstick itu.
Kekakuan
komunikasi akibat ‘insiden’ semalam berangsur-angsur lenyap. Faried pun
berusaha untuk lebih hati-hati berkata-kata agar menjaga perasaan Ayu.
“Apa Mbak tidak bosan dengan rutinitas seperti ini?” ia membuka percakapan,
“Apa Abang punya ide yang baik?” wanita cantik itu balas bertanya.
“Yah…
misalnya rutinitas yang baru. Kawin dengan lelaki yang mampu memberi
nafkah cukup lahir batin–tidak sekedar limpahan materi yang semu belaka,
hidup bahagia, punya anak dan menikmati kehidupan,” Faried mengucapkan
kalimat tersebut sesantai mungkin tanpa beban, ia ingin mendengar
pendapat Ayu mengenai hal ini.
Sejenak
Ayu terdiam. Faried kembali melirik ke belakang lewat kaca spion mobil.
Wanita itu terlihat sangat cantik dengan make up tipisnya, parasnya
yang memukau seperti bercahaya, dibanding para pelacur warung
remang-remang atau pinggir jalan tentu ibarat bumi dan langit. Ia
melepas pandang ke luar melalui kaca jendela taksi yang buram,
sepertinya memikirkan sesuatu.
“Itu angan-angan yang terlalu ideal, Bang,” jawabnya pada akhirnya.
“Jangan
melihat ini sebagai sesuatu yang naif, Mbak. Saya rasa pendapat saya
cukup realistis. Gak mengada-ada. Setiap orang, baik lelaki maupun
wanita, pasti pernah berpikir mengenai hal itu: Kebahagiaan hidup
berkeluarga. Semuanya akan kembali pada prinsip dan keinginan orang yang
bersangkutan, sepanjang ia sadar dan yakin hal itu bakal memberikan
ketenteraman bagi jiwanya, hatinya dan segenap aktifitas kesehariannya,”
Faried mencoba berargumen.
“Kita
punya takaran penilaian yang berbeda Bang. Tak akan bisa bertemu.
Jangan terlalu banyak bermimpi. Kita hidup berada dalam
kemungkinan-kemungkinan. Apa yang bakal terjadi kemudian, kita gak bisa
menebak. Dan itu sering tidak persis sama seperti yang kita bayangkan,”
ujar Ayu lirih dengan bibir bergetar.
Faried menarik nafas, putus asa.
“Apakah Mbak menganggap bahwa lakon hidup yang Mbak lakukan selama ini sama persis seperti yang Mbak bayangkan sebelumnya?”
“Memang
gak sama Bang. Bahkan sangat jauh berbeda. Saya gak pernah mengimpikan
menjalani kehidupan seperti ini. Tapi, bukankah ini bagian dari
kemungkinan-kemungkinan hidup? Gak berarti saya mengatakan bahwa saya
menolak kehidupan berkeluarga. Saya bukan orang yang munafik lah, terus
terang dalam hati saya tetap mendambakan seorang suami yang dapat
menyayangi dan memanjakan saya serta anak sebagai tambatan hati. Namun,
kalau saya telah menemukan ketenangan pada profesi yang saya lakoni saat
ini, bagi saya bukanlah suatu pilihan yang keliru. Setiap orang
memiliki cara masing-masing untuk memaknai hidupnya.”
“Apa Mbak merasa bahagia dengan memaknai hidup dengan jalan ini?”
“Saya
gak bisa menjawabnya Bang. Abang gak akan pernah tahu ukuran dan nilai
kebahagiaan bagi saya seperti apa. Begitu pula sebaliknya. Kita punya
‘nilai rasa’ yang berbeda dalam menakar kebahagiaan,” Ayu bertutur pelan
dengan tidak mengalihkan pandangan ke arah luar taksi.
Faried
terdiam, ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia sadar, wanita itu cukup
konsisten memegang prinsipnya. Mendadak, kesedihan merambah dalam hati
sopir taksi itu. Hari ini adalah hari terakhirnya bersama Ayu. Besok,
Ayu akan berangkat berlibur ke Singapura dan Australia mendampingi sang
direktur selama sebulan. Ia tidak tahu apakah Ayu akan menyewa ‘jasa’
nya lagi kelak atau mungkinkah mereka bisa bertemu lagi kelak. Baginya
itu tidak penting. Kebersamaan dengan wanita penghibur kelas atas itu
selama ini, tanpa sadar membangkitkan rasa cinta dan keinginan
melindungi dalam hatinya. Wanita itu bukan hanya sekedar langganan,
namun telah menjadi teman baginya. Melalui kaca spion mobil, ia melirik
Ayu. Ia begitu cantik, sangat cantik, mengapa bunga yang begitu indah
harus terhanyut dalam kubangan kotor? Faried membatin sekaligus
nelangsa. Tak lama kemudian, mereka telah sampai ke tujuan. Faried
segera mematikan mesin mobil dan pikirannya galau sepanjang menanti
panggilan dari Ayu untuk mengantarnya pulang, tak terasa lima puntung
rokok telah habis sampai kotak rokoknya kosong. Hujan deras mengguyur
ibukota di tengah perjalanan pulang mengantarkan wanita itu. Setibanya
di rumah Ayu, Faried turun dan mengeluarkan payung sebelum membuka pintu
belakang dan memayungi wanita itu hingga ke gerbang.
“Bang, masuk dulu aja, minum dulu sambil tunggu hujan reda!” tawar Ayu setelah membuka gembok.
“Tapi Mbak…”
“Sudahlah
Bang, masuk saja, hujannya terlalu deras, mana ada yang numpang
saat-saat gini?” Ayu malah menarik lengan Faried memasuki pekarangan
rumahnya.
Faried
tidak bisa menolak lagi ajakan wanita itu, malah hati kecilnya merasa
girang. Mereka berlari kecil ke pintu. Ayu membuka pintu dan
mempersilakan sopir taksi itu masuk. Faried langsung merasakan
kehangatan begitu memasuki rumah itu. Ayu memang pandai menata interior
ruangan sehingga kelihatan menarik dan nyaman. Dekorasi ruangan tamunya
bertema oriental, beberapa buah patung menghiasi berbagai sudut. Faried
terbengong-bengong memandangi sekitar ruangan itu, entah perlu gaji
berapa puluh tahun baru bisa membeli rumah seperti ini.
“Duduk Bang!” Ayu mempersilakannya duduk di sofa “mau minum apa nih? Teh? Kopi? Juice?” tawarnya sambil ke mini bar dekat situ.
“Kopi panas aja Mbak, makasih ya!” jawab Faried sambil menjatuhkan diri di sofa.
Ada
beberapa majalah dan surat kabar di bawah meja ruang tamu. Faried pun
membuka-buka sebuah majalah sambil menunggu Ayu membuatkan minum. Di
sebuah sudut ruangan nampak sebuah koper besar dan sebuah yang kecil,
Ayu memang telah selesai mengepak barang-barang yang akan dibawa
sehingga besok tinggal diangkut ke mobil.
“Silakan
Bang, diminum dulu kopinya” tiba-tiba Ayu sudah berada di depannya dan
meletakkan segelas kopi yang masih mengepul atas meja di depanku.
Badannya
agak membungkuk, sehingga sopir taksi itu bisa melihat sekelebatan
tonjolan dua bukit dadanya yang kencang dan dibalut bra hitam lewat gaun
terusannya yang longgar. Sejenak dadanya berdesir dan ia merasa
celananya tiba-tiba menjadi sempit.
“Makasih ya Mbak!”
Ayu
kemudian duduk di sebelahnya cukup dekat untuk ukuran seorang sopir
taksi dan penumpangnya. Keduanya mulai mengobrol dan bercerita tentang
apa saja, juga saling bertukar lelucon dan mereka tertawa lepas.
“Ini hari terakhir kita bertemu Bang! Besok saya pergi…makasih ya bantuannya selama ini” kata Ayu berkata sambil menghela nafas.
Hingga
suatu saat, Faried memberanikan diri dengan dada berdebar keras
memegang jemari tangan wanita itu, ia ingin memberinya penghiburan
sebelum pergi jauh dalam waktu relatif lama. Ayu agak tertegun, tapi
tidak menolak.
“Mbak…jaga diri di sana ya” kata Faried singkat.
Ayu tersenyum, “Ya…makasih, Abang juga, semoga dapat jodoh yang baik” balasnya.
Tiba-tiba Ayu melepaskan tangan sopir taksi itu lalu berdiri kemudian menuju kamarnya.
“Tunggu
bentar ya Bang!” katanya sambil tersenyum penuh arti, ia lalu mengambil
remote TV di meja ruang tamu dan menyalakan TV di depan mereka, “nonton
aja dulu ya sambil nunggu!” lalu ia masuk ke kamarnya.
Di
ruang tamu, Faried mendengar sayup-sayup suara air yang mengucur deras
dari dalam kamar itu. Rupanya di dalam ada kamar mandi dalam. Tak lama
kemudian, Ayu keluar dari kamarnya, kini ia sudah memakai kimono sutra
berwarna biru. Sungguh cantik dan menggairahkan ia dalam balutan pakaian
tersebut, belahan pahanya memperlihatkan pahanya yang indah.
“Ayo sini Bang!” ajak Ayu sambil menggandeng tangan Faried.
“Tapi Mbak…mau apa?” Faried gugup dengan ajakan wanita tersebut.
Ia menurut saja walau merasa canggung karena baru pernah seorang wanita mengajaknya masuk ke kamarnya seperti ini.
“Eeennggg….kamarnya bagus ya Mbak!” pujinya sambil menutup kegugupan, “kita mau apa Mbak?”
Ayu
hanya menjawab terima kasih, dia terus menuntun Faried hingga memasuki
kamar mandinya. Di dalam kamar mandi, ia melihat air kran masih mengucur
deras hampir memenuhi separuh dari bathtub. Wangi harum dari bubble
bath segera memenuhi paru-paru pria itu.
“Bang…makasih
ya atas bantuannya selama ini” kata Ayu lalu tiba-tiba merangkul sambil
mendorong Faried ke belakang sehingga tubuh pria itu terhimpit ke
tembok, tangannya lalu meraba sekujur tubuh sopir itu, “abang orang
baik, tulus, jarang saya temui orang seperti abang jaman sekarang ini,
apalagi di dunia saya”
“Eeee…apaan nih Mbak?” Faried mencoba menghindar antara mau dan tidak.
“Anggap
ini hadiah perpisahan dari saya Bang…sekaligus terima kasih untuk
mengembalikan lipstik saya itu” habis berkata Ayu lalu mencium Faried
dengan bernafsu sekali sambil tangannya meremas-remas selangkangan pria
itu. Prediksi Bola
Cerita Seks
— Iman Faried pun dengan cepat runtuh. Ia pun membalasa mencium dan
memagut bibir indah Ayu sambil tangannya meremas lembut pantatnya. Ayu
mulai melepaskan satu persatu kancing seragam sopir Faried. Belaian
tangan lembut wanita itu pada dadanya sungguh membangkitkan gairah si
sopir taksi, kelelakiannya terasa makin keras sehingga celana panjangnya
terasa semakin sesak. Tangannya agak gemetar dan mulai berani meraba
dan meremas lembut bukit dada Ayu. Wanita itu melenguh dan semakin ganas
dengan permainan “french kiss” nya. Sebentar saja seragam sopir itu
sudah lepas dan jatuh ke lantai. Ayu melanjutkan dengan membuka celana
panjang pria itu. Faried pun mulai melepaskan tali pinggang yang
membalut kimono Ayu. Payudaranya yang sudah membusung dengan putingnya
yang tegak telah membayang di balik kimononya, terlihat jelas ia sudah
tidak memakai bra lagi.
Rajangocok — Cerita Dewasa Perjakaku Diambil Sama Polwan Cantik— Aku lagi mencari kerja untuk biaya kuliahku, dan saat itu sekitar tahun 2009 an. Kebetulan ada teman ibuku yang usaha warnet, jadi aku pun bekerja di warnet itu untuk biaya — biaya kuliahku. saya biasanya mendapatkan shift malam mulai jam 7 sampe jam 12 malam. Tapi kadang juga ada gantian sama temanku yang lain, tergantung situasi lah.
Saat itu aku jaga warnet sendirian, harusnya sih berdua sama temanku. tapi biasa lah ada aja alasan dia menghilang. yang herannya sepi sekali warnet hari ini, karena zaman ini orang-orang masih belum ada internet dirumah. Jadinya aku santai-santai sambil browsing materi kuliah, sambil slonjor-slonjor dan nyamil kacang. Sekitar jam 9 ada suara motor berhenti diluar. Hah, akhirnya ada pengunjung juga.
Pintu kemudian dibuka, Nampak cewek masuk, bodynya tinggi, wajahnya imut sih, rambut potong pendek dan pake jaket dan celana panjang. Mau nge-net ada mas? tanyanya. Oh, silahkan mbak, kosong kok. Bebas milih mana saja. Jawabku ramah sambil melihat wajah imut tersebut. Makasih mas, saya dipojok situ aja dia lalu menuju bilik yang pojok, terus nglepas sepatu dan duduk (bilik warnetnya lesehan semua). Aku lihat sepatunya sepatu kulit, kayak-kayaknya bukan cewek biasa nih. Setelah duduk, dia membuka jaket.
ternyata dibalik jaketnya dia memakai seragam polisi, pangkatnya Segitiga Kuning satu biji, ohh Sersan Dua pangkatnya. Ohh.., seorang polwan yang manis pikirku. Mas, username ama passwordnya apaan nih?? tanyanya, sambil menoleh ke aku. Ehh.., ohh.., bebas kok mbak, langsung aja kataku jadi sedikit gagap gara-gara terpana plus kaget.. Okey mas, makasih. Beberapa menit sambil browsing aku curi-curi lihat ke mbak polwan tadi. Lama-lama kok beberapa kali ketahuan lagi nyuri pandang. Akhirnya aku gak berani lagi ngliat dia. Konsentrasi aku alihkan ke monitor komputerku. Karena bosan dengan materi kuliah, aku mulai browsing situs-situs hot. Setengah jam berlalu, tiba-tiba aku kaget saat mbak tadi sudah disampingku. Mas, ajari bikin email dong katanya. Ehh ,ehhhh, ehhh iya aku panic, karena monitorku isinya penuh gambar pasangan lagi adegan hot. ayo mbak, saya ajari aku langsung berdiri dan mengajak mbak polwan tadi ke biliknya (supaya aku gak tengsin & terlalu lama salting didepan komputerku). Aku mulai ngajari cara mbuat email dari dasar-dasarnya. Sambil lirak-lirik aku baca namanya, sebut saja Dewi. Dewi tampak antusias mendengar penjelasanku, kemudian mulai mencoba mempraktekkan langkah demi langkah. Aku masih grogi, bagaimana tidak, lha wong dia polwan hiiiii. Tapi kayaknya dia yang berusaha mencairkan suasana.
Mas sudah lama kerja diwarnet ya? tanyanya. Wah, baru kok mbak. Ini juga buat nambah-nambah biaya kuliah jawabku sambil berusaha tersenyum, tapi masih kaku. Shitt. wah, kok lancer banget gitu ya nge-netnya? Ehh, jangan panggil saya mbak dong. Nih, kan namaku udah terpampang jelas gini. Panggil Dewi aja ya? Kalo nama mas sapa? Saya Andri mbak.., wah nggak berani manggil gitu mbak. Ngak sopan Jawabku sambil menggerakkan mouse. Nggak papa kok, biar akrab. Lagian kayaknya kita seumuran ya. Aku dua puluh tiga tahun kok paparnya blak-blakan, jarang yh cewek blak-blakan masalah umur. Ya deh mbak, eh Dewi, kalo saya baru dua puluh dua tahun mbak, tuaan mbak dikit dong, ngomong-ngomong kok masih pake baju dines. Habis tugas ya? tanyaku sambil kesempatan buat mandang wajahya yang manis (buehhh, betul-betul manis nihh). iya habis ikut pengamanan di balaikota, tadi ka ada demo mahasiswi. Jadi Polwannya turun semua. Ohh.., gitu. Lho mbak Dewi kok gak pulang kerumah? tanyaku lagi. Nggak, tadi lihat warnet jadi pengin mampir. Sekalian belajar. Emang mbak Dewi rumahnya dimana?Di perumahan ****, yahh agak jauh sih. dia menjawab sambil tersenyum manis wihhh. Lho, udah nikah ya mbak? (nanya nya mulai gak konsen gara-gara senyuman tadi)Udah, nikah sih udah satu tahun.
Suamiku sipil, kerja di expidisi. Tapi lagi ruwet nihh, dia kecantol ama temen kerjanya, ini aku lagi ngurus cerai katanya sambil sedikit serak. Ehm, maaf mbak. Lancang nanya. Gak papa.., kalo mas sendiri? Lhahh, dia balas nanya. Belum mbak, pacar aja gak ada. Nanti-nanti lah. Ohh, padahal penampilan mendukung lhoh dia menjawab sambil tersenyum lagi. Matek aku panas dingin langsung. Apalagi tangannya sambil menyenggol bahuku beuhhh. Ahh, mbak bisa aja. Ehh.., suami mbak terlalu juga ya. Mbak yang secantik ini di khianati agak nggombal dikit jawabanku. Hahaha, cantik gimana? Biasa aja ah Sambil tangannya disenggolkan ke bahuku lagi. Tapi, hatiku sedih sekali, makanya kadang kalo pulang kerja aku ndak langsung kerumah. Tapi jalan kemana dulu gitu. Lho, cantik betul lho mbak, manis tinggi langsing lagi entah darimana kata-kata ini kudapat, dia terlihat agak tersipu-sipu. Senyumnya makin mengembang. Ehmm.., makasih ya. Eh.., ngliat situs-situs yang kayak tadi dimana ya? tanyanya agak malu-malu. Ehhh.., yang mana ya mbak? jawabku pura-pura bego. Yang tadi itu lho, yang dikomputernya mas.. Ohh.., ehh gak papa ya mbak? Ini aku carikan alamatnya aku mulai mengetik alamat, dan muncul gambar-gambar orang lagi bercinta berat. Aku lihat matanya menatap monitor penuh hasrat.
Ini tinggal di klik link-link yang ada. Banyak kok nantinya. Sambil aku beranjak pergi, mau kembali ke tempat operator. Ehh, kemana mas? Temenin aku dong, siapa tau nanti ad kesulitan lagi. Sambil tangannya meraih tanganku dan menarikku untuk duduk lagi. Disini aja ya.. dan aku mengangguk pelan. Kami berdua mulai browsing situs-situs xxx, dan aku merasa duduk makin merapat. Mata Dewi tak lepas dari monitor, nafasnya terdengar agak memburu (aku juga demikian sihh hehehehe). Terasa tubuhku mulai bersentuhan dengannya, hangat dehh. Tangannya ditumpangkan kepahaku, membuat konty ku meluap meronta-ronta (waktu itu aku masih betul-betul perjaka bayangkeunn), diusap-usap pahaku. Aku beranikan memeluk pinggangnya yang ramping dan aku rapatkan tubuhnya ke tubuhku. Mas, udah pernah kayak yang dikomputer ini ndak? tanyanya pelan, agak berbisik. Wajahnya betul-betul rapat dengan wajahku, bikin aku gelagepan. Belum mbak, pacar aja gak punya, ciuman juga belum pernah jawabku jujur. Ehmmm, kalau gitu di berdiri kemudian berjalan kepintu depan. Pintu dikunci oleh dia, kemudian tulisan closed dibalik. Lalu dia kembali ke tempatku duduk, kembali memeluk aku yang sudah betul-betul panas dingin.Mau nggak kayak gitu?? setengah berbisik dewi nanya didekat telingaku, seluruh badanku jadi merinding.
Bibirnya ditempelkan ke telingaku. Anjrriiiiittttt, aku gak bisa ngomong apa-apa. Tanpa menunggu jawabanku tangannya menarik tangan kiriku, ditempelkan ke toketnya. Gak terlalu besar sih, tanganku dibimbing untuk membuat gerakan mengusap dan meremas. Setelah aku bisa gerak sendiri, tanganku dilepaskan. Kemudian tangan kanan Dewi menelusup kedalam kaosku, meremas dan memilin-milin putingku. Badanku kayak kejang semua jadinya. Mas, mau kan sama Dewi? Satu malam ini aku milikmu masss suaranya mendesah ditelingaku. Mulutnya memagut bibirku, lidahnya liar masuk kemulutku. Sementara aku mendesah-ndesah keenakan (pengalaman pertama ) tanganku semakin aktif meremas toketnya. Tangan Dewi kemudian membuka beberapa kancing baju dinasnya, ehhh ternyata masih ada kaos dalam. Kaos dalam dia sibakkan ke atas, kemudian BH juga dia sibakkan ke atas. Tanganku ditarik lagi buat meremas-remas toketnya, aku mulai bersemangat. Tangan Dewi menelusup ke celanaku, kontolku yang udah bengkak diremas-remas, ahhhhhh. Ubun-ubun kayak mau meledak. Sementara Dewi terus memagut seisi mulut dan lidahku. Perlhan kaosku dinaikkan keatas, bibir Dewi kemudian pindah menjelajahi dadaku. Situs Judi Online
Cerita Sex— Lidahnya menjilati putingku. Huuuuuhhhhh, sambil sesekali terasa gigitan-gigitan kecil yang sering bikin aku kaget. Terasa seluruh dadaku disapu lidahnya.., rasanya nyaman-nyaman gimana gitu, lidahnya mulai turun menjilati pusarku. Karuan aja aku mengelinjang kesana-kemari. Perlahan tangannya membuka risluting celanaku, diturunkan sebatas lutut. Didalam cd, kontol ini mulai terasa berdesir-desir, sementara Dewi dengan buas menciumi batang kejantananku. Tak lama kemudian, cd ku dilorotkan sebatas lutut juga. Mas, burungnya lumayan besar ya.. emmm. sambil tangannya mengelus dan meremas-remas batangku. Uhhhh, emang besar ya mbakkk??? tanyaku sambil merem melek. Nggak terlalu besar sih, tapi pas segini nih. Dewi menjawab sambil tangannya mulai mengocok batangku. Massss., burungnya aku emut yaa?? Iya mbak Aku udah gak konsen, Dewi lalu mulai mengulum kepala dan batang burungku pelan-pelan. Lembut banget, tangan kananku dengan gemas meremas-remas rambutnya yang pendek, rapi dan hemmmm., sangat wangi. Dan tangan kiriki meremas toket dibalik baju dinasnya, kenyal banget. Semakin lama kulumannya semakin cepat, aku semakin menggelinjang dan kelojotan.
Cerita Dewasa — ML Bersama Dengan Istri Dan Mantanku | Rajangocok.com
RajaNgocok — Cerita Dewasa — ML Bersama Dengan Istri Dan Mantanku — Kata teman-temanku aku punya libido seks tinggi atau nafsu liar, makanya istriku kadang-kadang tidak kuat meladeni diriku di ranjang. Tengah asyik-asyiknya kami penetrasi pintu kamar hotelku diketuk, aku langsung beranjak tanpa mempedulikan istriku yang sudah ngos-ngosan tidak karuan.
Hari keempat setelah usai makan malam, aku dan istriku mulai iseng seperti biasa suami istri saling cium, saling hisap walaupun dengan pakaian setengah telanjang, namun nafsu liar kami berdua tidak ada habis-habisnya (maklum tiap hari pikiran ini dipenuhi pekerjaan kantor, jadi wajar kalau tiap hari waktu liburan kami senantiasa berhubungan).
Ini aku alami waktu berlibur di kota S bersama istriku. Saat itu aku ketemu mantanku waktu kerja di kota itu. Namanya Maya, sebut saja demikian. Aku dan istriku waktu itu menginap di hotel ‘S’, kami berdua sudah hampir 3 hari menginap untuk sedikit refresing dari kota J.
Betapa terkejutnya aku waktu kubuka pintu, sesosok badan montok berdiri di depanku dengan celana jeans ketat dan kaos putih ketat terawang. Aku hampir terpesona “Maya..” kataku setengah gugup. “Ayo masuk,” pintaku, tanpa sadar aku sudah setengah telanjang (walau hanya memakai celana pendek waktu itu). Dia mengikutiku masuk ruangan hotel, istriku pun tengah rebahan dan hanya ditutup oleh selimut hotel.
“Ini Maya, Mah kenalin,” mereka pun saling berjabat tangan. “Oh, kalian sedang asyik yah, maaf kalo aku mengganggu?” kata Maya kemudian. Kami pun agak kikuk, namun Maya dengan santai pun berkata, “Lanjutin aja, cueklah kalian kan sudah suami istri, ayo lanjutin aja!”
Aku dan istriku heran melihat hal itu, namun dengan sedikit kikuk tanpa aku pikirkan siapa dia, aku mulai lagi penetrasi dengan istriku (walaupun agak canggung). Kulumat bibir istriku, turun ke bawah di antara dua payudara nan indah yang kumiliki selama ini (ukurannya sih 34B) kujilat-kugigit puting susu istriku, dengan terpejam istriku mendesah, “Aaahh.. aahh..” dia pun tidak memperdulikan sekelilingnya juga termasuk Maya. Judi online
Cerita seks — Mulutku mulai turun ke arah di lubang kemaluan istriku dengan tangan kanan dan kiri meremas-remas kedua payudaranya. Kujilati lubang kemaluan istriku, dia pun mulai bergoyang-goyang. “Mas.. itilnya.. aahh enak.. Mas.. terus..” Aku sempat melirik Maya, dia pun melihat adegan kami berdua seakan-akan ingin ikut menikmatinya.
Cerita Dewasa Pertama Kalinya Aku Tiduri Pacarku | Rajangocok.com
RajaNgocok — Cerita Dewasa Pertama Kalinya Aku Tiduri Pacarku — Ririn sendiri adalah seorang gadis yang bertubuh mungil, tingginya mungkin tidak lebih dari 155 cm dan bertubuh kurus, namun memiliki ukuran payudara yang besar, mungkin seukuran dengan payudara Febby Febiola. Sampai-sampai teman-temanku sering berkata kalau nafsu seksnya pun pasti besar. Tapi bukan itu yang jadi penyebab aku mencintainya, sikap manja dan tawanya yang lepas membuatku senang bersama dan bercanda dengannya. Hubungan pacaran kami layaknya gaya pacaran remaja era 90-an, tidak lebih dari nonton bioskop atau makan di restoran cepat saji.
Aku seorang cowok, ini adalah cerita dewasa ketika aku ngentot pertma kali dengan kekasihku, terasa aneh dan enaaaak banget. Inilah cerita panas tersebut, Namaku Agung dan pacarku bernama Ririn. Kami satu sekolah di Jakarta dan kami resmi menjadi pacar di kelas 3 setelah sekitar setahun sering pulang bareng karena rumah kami searah.
Tapi memang setelah pulang sekolah aku sering mampir ke rumahnya untuk ngobrol atau mengerjakan tugas bareng. Biasanya ada ibunya dan adik laki-lakinya yang masih smp. inilah cerita dewasa panas yang aku alami.Sehari menjelang acara liburan perpisahan sekolah kami, seperti biasa aku mengantarnya pulang dan mampir ke rumahnya. Ternyata hari itu ibunya sedang ke Kota Malang bersama adiknya untuk menjenguk kakaknya yang kuliah dan sedang sakit di sana. Sedangkan bapaknya memang biasa pulang malam.
Jadilah kami hanya berdua di rumah tersebut.“Mau nonton CD ga? Aku punya CD baru ni,” katanya seperti biasa dengan ceria. “Boleh,” sahutku. “Bentar ya, aku mo ganti baju dulu, bau,” katanya sambil beranjak ke kamarnya. Aku pun memasukkan keping CD ke dalam CD playernya sambil menunggunya ganti baju.Tidak lama dia pun kembali ke ruang tengah dengan celana pendek sekitar 20 cm di atas lutut dan kaos ketat. Kami pun menonton film dengan duduk bersebelahan di sofanya. Film yang kami tonton adalah film Armageddon.Kugenggang tangannya dan menariknya menempelkan bahunya dengan bahuku, dia pun merapat dan lenganku pun kini berada di atas payudaranya yang kenyal.
Dia sudah terbiasa dengan hal ini, toh biasanya pun seperti itu tiap kali nonton di bioskop atau di perjalanan.Semakin lama posisi duduknya makin bergeser dan kini dia tiduran dengan kepalanya berada di atas pahaku. “Cantiknya gadisku ini,” pikirku dalam hati. Tanganku pun kuletakkan di atas perutnya. Ketika adegan ada adegan panas di film, kurasakan nafasnya berubah. Terus terang aku pun merasa terangsang, pelan-pelan kugeser telapak tanganku ke atas payudaranya, tapi dia menolaknya.
Karena terbawa suasana, kucium keningnya dan dia tersenyum kepadaku. Kulanjutkan dengan mengecup pipi dan bibirnya, lagi-lagi dia tersenyum. Itu adalah ciuman pertama kami. Ciuman yang awalnya hanya menempel kurang dari sedetik, kini sudah menjadi ciuman penuh nafsu. Lidah kami saling bermain dan tanganku pun sudah meremas-remas payudaranyaTiba-tiba dia bangun dan duduk di sebelahku, “udah ya, nanti keterusan lagi”. “Sorry ya, abis kamu gemesin sih. Tau ngga, itu tadi ciuman pertamaku lho,” ujarku polos. “sammma,” jawabnya lagi sambil menampilkan senyumnya yang bikin makin cinta itu.
Kami pun meneruskan menonton film dan hanya menonton.Setelah film selesai, dia bangkit dari duduknya, “Mau ke mana?” tanyaku. “Mau beresin baju dulu buat besok,” jawabnya. Memang besok kami akan pergi ke luar kota bersama seluruh teman satu sekolah.“Mau dibantuin?” tanyaku. “Ayo,” jawabnya sambil berjalan menuju kamarnya. Aku pun mengikutinya ke kamarnya dan inilah pertama kalinya aku masuk ke kamarnya. Kamarnya betul-betul menunjukkan kalau dia masih manja, dengan cat pink dan tumpukan boneka di atas ranjangnya.Dia mulai mengeluarkan baju-bajunya. “Yang ini jangan dibawa, terlalu seksi,” kataku ketika dia mengeluarkan bajunya yang memang tipis dan berbelahan dada besar. Judi Online
Cerita Seks— “Jangan protes doang, nih beresin sekalian,” jawabnya seolah protes dengan memasang wajah ngambek, tapi lagi-lagi tetap terlihat manja.Aku pun mengambil alih lemarinya dan kupilih-pilih baju yang kupikir cocok untuk dibawanya. Tiba-tiba muncul ide isengku untuk memilihkan juga pakaian dalamnya. Kuambil satu yang berwarna krim, “ih jangan pegang-pegang yang itu” jerit manjanya sambil berusaha merebut dari tanganku. Aku pun berlari menghindar, “Wah ini toh bungkusnya, gede juga,” candakuDia pun menarik tanganku dan memelukku untuk merebut bra dari tanganku yang lain.
Cerita Dewasa Mencari Kepuasan Seks Aku Berselingkuh | Rajangocok.com
RajaNgocok — Cerita Dewasa Mencari Kepuasan Seks Aku Berselingkuh — Pada dasarnya suamiku itu selalu menuruti keinginanku, maka tanpa banyak bicara dia mengijinkan aku bekerja, walaupun aku sendiri belum tahu bekerja di mana, dan perusahaan mana yang akan menerimaku sebagai seorang Accounting, karena aku sudah berkeluarga.
Karena jabatan suamiku sudah tidak mungkin lagi naik di perusahaannya, untuk menambah penghasilan kami, aku meminta ijin kepada Mas Vincent untuk bekerja, mengingat pendidikanku sebagai seorang Accounting sama sekali tidak kumanfatkan semenjak aku menikah.
“Bukankah kamu punya teman yang anak seorang Direktur di sini?” kata suamiku di suatu malam setelah kami melakukan hubungan badan. “Iya si Mona, teman kuliah Suvii..!” kataku. “Coba deh, kamu hubungi dia besok. Kali saja dia mau menolong kamu..!” katanya lagi. “Tapi, benar nih.. Mas.. kamu ijinkan saya bekerja..?” Mas Vincent mengangguk mesra sambil menatapku kembali.
Sambil tersenyum, perlahan dia dekatkan wajahnya ke wajahku dan mendaratkan bibirnya ke bibirku. “Terimakasih.. Mas.., mmhh..!” kusambut ciuman mesranya. Dan beberapa lama kemudian kami pun mulai terangsang lagi, dan melanjutkan persetubuhan suami istri untuk babak yang ketiga. Kenikmatan demi kenikmatan kami raih. Hingga kami lelah dan tanpa sadar kami pun terlelap menuju alam mimpi kami masing-masing.
Perlu kuceritakan di sini bahwa Rendy, anak kami tidak bersama kami. Dia kutitipkan ke nenek dan kakeknya yang berada di lain daerah, walaupun masih satu kota. Kedua orangtuaku sangat menyayangi cucunya ini, karena anakku adalah satu-satunya cucu laki-laki mereka.
Siang itu ketika aku terbangun dari mimpiku, aku tidak mendapatkan suamiku tidur di sisiku. Aku menengok jam dinding. Rupanya suamiku sudah berangkat kerja karena jam dinding itu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku teringat akan percakapan kami semalam. Maka sambil mengenakan pakaian tidurku (tanpa BH dan celana dalam), aku beranjak dari tempat tidur berjalan menuju ruang tamu rumahku, mengangkat telpon yang ada di meja dan memutar nomor telpon Yanti, temanku itu.
“Hallo ini Yanti..!” kataku membuka pembicaraan saat kudengar telpon yang kuhubungi terangkat. “Iya.., siapa nih..?” tanya Yanti. “Ini.. aku Suvii..!” “Oh Suvii.., ada apa..?” tanyanya lagi. “Boleh nggak sekarang aku ke rumahmu, aku kangen sama kamu nih..!” kataku. “Silakan.., kebetulan aku libur hari ini..!” jawab Yanti. “Oke deh.., nanti sebelum makan siang aku ke rumahmu. Masak yang enak ya, biar aku bisa makan di sana..!” kataku sambil sedikit tertawa. “Sialan luh. Oke deh.., cepetan ke sini.., ditunggu loh..!” “Oke.., sampai ketemu yaa.. daah..!” kataku sambil menutup gagang telpon itu.
Setelah menelepon Yanti, aku berjalan menuju kamar mandi. Di kamar mandi itu aku melepas pakaianku semuanya dan langsung membersihkan tubuhku. Namun sebelumnya aku bermasturbasi sejenak dengan memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri sambil pikiranku menerawang mengingat kejadian-kejadian yang semalam baru kualami. Membayangkan penis suamiku walau tidak begitu besar namun mampu memberikan kepuasan padaku. Dan ini merupakan kebiasaanku.
Walaupun aku telah bersuami, namun aku selalu menutup kenikmatan bersetubuh dengan Mas Vincent dengan bermasturbasi, karena kadang-kadang bermasturbasi lebih nikmat.
Singkat cerita, siang itu aku sudah berada di depan rumah Yanti yang besar itu. Dan Yanti menyambutku saat aku mengetuk pintunya. “Apa khabar Suvii..?” begitu katanya sambil mencium pipiku. “Seperti yang kamu lihat sekarang ini..!” jawabku. Setelah berbasa-basi, Yanti membimbingku masuk ke ruangan tengah dan mempersilakan aku untuk duduk.
“Sebentar ya.., kamu santailah dahulu, aku ambil minuman di belakang…” lalu Yanti meninggalkanku. Aku segera duduk di sofanya yang empuk. Aku memperhatikan ke sekeliling ruangan ini. Bagus sekali rumahnya, beda dengan rumahku. Di setiap sudut ruang terdapat hiasan-hiasan yang indah, dan pasti mahal-mahal. Foto-foto Yanti dan suaminya terpampang di dinding-dinding. Edo yang dahulu katanya sempat menaksir aku, yang kini adalah suami Yanti, terlihat semakin ganteng saja. Dalam pikirku berkata, menyesal juga aku acuh tak acuh terhadapnya dahulu. Coba kalau aku terima cintanya, mungkin aku yang akan menjadi istrinya.
Sambil terus memandangi foto Edo, suaminya, terlintas pula dalam ingatanku betapa pada saat kuliah dulu lelaki keturunan Manado ini mencoba menarik perhatianku (aku, Yanti dan Edo memang satu kampus). Edo memang orang kaya. Dia adalah anak pejabat pemerintahan di Jakarta. Pada awalnya aku pun tertarik, namun karena aku tidak suka dengan sifatnya yang sedikit sombong, maka segala perhatiannya padaku tidak kutanggapi. Aku takut jika tidak cocok dengannya, karena aku orangnya sangat sederhana.
Lamunannku dikagetkan oleh munculnya Yanti. Sambil membawa minuman, Yanti berjalan ke arah aku duduk, menaruh dua gelas sirup dan mempersilakanku untuk minum. “Ayo Suvii, diminum dulu..!” katanya. Aku mengambil sirup itu dan meminumnya. Beberapa teguk aku minum sampai rasa dahaga yang sejak tadi terasa hilang, aku kembali menaruh gelas itu.
“Oh iya, Mas Edo ke mana?” tanyaku. “Biasa… Bisnis dia,” kata Yanti sambil menaruh gelasnya. “Sebentar lagi juga pulang. Sudah kutelpon koq dia, katanya dia juga kangen sama kamu..!” ujarnya lagi.
Yanti memang sampai sekarang belum mengetahui kalau suaminya dahulu pernah naksir aku. Tapi mungkin juga Edo sudah memberitahukannya.
“Kamu menginap yah.. di sini..!” kata Yanti. “Akh… enggak ah, tidak enak khan..!” kataku. “Loh… nggak enak gimana, kita kan sahabat. Edo pun kenal kamu. Lagian aku sudah mempersiapkan kamar untukmu, dan aku pun sedang ambil cuti koq, jadi temani aku ya.., oke..!” katanya. “Kasihan Mas Vincent nanti sendirian..!” kataku. “Aah… Mas Vincent khan selalu menurut keinginanmu, bilang saja kamu mau menginap sehari di sini menemani aku. Apa harus aku yang bicara padanya..?” “Oke deh kalau begitu.., aku pinjam telponmu ya..!” kataku. “Tuh di sana…!” kata Yanti sambil menujuk ke arah telepon.
Aku segera memutar nomor telpon kantor suamiku. Dengan sedikit berbohong, aku minta ijin untuk menginap di rumah Yanti. Dan menganjurkan Mas Vincent untuk tidur di rumah orangtuaku. Seperti biasa Mas Vincent mengijinkan keinginanku. Dan setelah basa-basi dengan suamiku, segera kututup gagang telpon itu.
“Beres..!” kataku sambil kembali duduk di sofa ruang tamu. “Nah.., gitu dong..! Ayo kutunjukkan kamarmu..!” katanya sambil membimbingku. Di belakang Yanti aku mengikuti langkahnya. Dari belakang itu juga aku memperhatikan tubuh montoknya. Yanti tidak berubah sejak dahulu. Pantatnya yang terbungkus celana jeans pendek yang ketat melenggak-lenggok. Pinggulnya yang ramping sungguh indah, membuatku iseng mencubit pantat itu.
“Kamu masih montok saja, Yan..!” kataku sambil mencubit pantatnya. “Aw.., akh.. kamu. Kamu juga masih seksi saja. Bisa-bisa Mas Edo nanti naksir kamu..!” katanya sambil mencubit buah dadaku. Kami tertawa cekikikan sampai kamar yang dipersiapkan untukku sudah di depan mataku. “Nah ini kamarmu nanti..!” kata Yanti sambil membuka pintu kamar itu.
Besar sekali kamar itu. Indah dengan hiasan interior yang berseni tinggi. Ranjangnya yang besar dengan seprei yang terbuat dari kain beludru warna biru, menghiasi ruangan ini. Lemari pakaian berukiran ala Bali juga menghiasi kamar, sehingga aku yakin setiap tamu yang menginap di sini akan merasa betah.
Akhirnya di kamar itu sambil merebahkan diri, kami mengobrol apa saja. Dari pengalaman-pengalaman dahulu hingga kejadian kami masing-masing. Kami saling bercerita tentang keluhan-keluhan kami selama ini. Aku pun bercerita panjang mulai dari perkimpoianku sampai sedetil-detilnya, bahkan aku bercerita tentang hubungan bercinta antara aku dan suamiku. Kadang kami tertawa, kadang kami serius saling mendengarkan dan bercerita. Hingga pembicaraan serius mulai kucurahkan pada sahabatku ini, bahwa aku ingin bekerja di perusahan bapaknya yang direktur.
“Gampang itu..!” kata Yanti. “Aku tinggal menghubungi Papa nanti di Jakarta. Kamu pasti langsung diberi pekerjaan. Papaku kan tahu kalau kamu adalah satu-satunya sahabatku di dunia ini..” lanjutnya sambil tertawa lepas. Tentu saja aku senang dengan apa yang dibicarakan oleh Yanti, dan kami pun meneruskan obrolan kami selain obrolan yang serius barusan.
Tanpa terasa, di luar sudah gelap. Aku pun minta ijin ke Yanti untuk mandi. Tapi Yanti malah mengajakku mandi bersama. Dan aku tidak menolaknya. Karena aku berpikir toh sama-sama wanita.Sungguh di luar dugaan, di kamar mandi ketika kami sama-sama telanjang bulat, Yanti memberikan sesuatu hal yang sama sekali tidak terpikirkan.
Sebelum air yang hangat itu membanjiri tubuh kami, Yanti memelukku sambil tidak henti-hentinya memuji keindahan tubuhku. Semula aku risih, namun rasa risih itu hilang oleh perasaan yang lain yang telah menjalar di sekujur tubuh. Sentuhan-sentuhan tangannya ke sekujur tubuhku membuatku nikmat dan tidak kuasa aku menolaknya. Apalagi ketika Yanti menyentuh bagian tubuhku yang sensitif.
Kelembutan tubuh Yanti yang memelukku membuatku merinding begitu rupa. Buah dadaku dan buah dadanya saling beradu. Sementara bulu-bulu lebat yang berada di bawah perut Yanti terasa halus menyentuh daerah bawah perutku yang juga ditumbuhi bulu-bulu. Namun bulu-bulu kemaluanku tidak selebat miliknya, sehingga terasa sekali kelembutan itu ketika Yanti menggoyangkan pinggulnya.
Karena suasana yang demikian, aku pun menikmati segala apa yang dia lakukan. Kami benar-benar melupakan bahwa kami sama-sama perempuan. Perasaan itu hilang akibat kenikmatan yang terus mengaliri tubuh. Dan pada akhirnya kami saling berpandangan, saling tersenyum, dan mulut kami pun saling berciuman.
Kedua tanganku yang semuala tidak bergerak kini mulai melingkar di tubuhnya. Tanganku menelusuri punggungnya yang halus dari atas sampai ke bawah dan terhenti di bagian buah pantatnya. Buah pantat yang kencang itu secara refleks kuremas-remas. Tangan Yanti pun demikian, dengan lembut dia pun meremas-remas pantatku, membuatku semakin naik dan terbawa arus suasana. Semakin aku mencium bibirnya dengan bernafsu, dibalasnya ciumanku itu dengan bernafsu pula.
Hingga suatu saat ketika Yanti melepas ciuman bibirnya, lalu mulai menciumi leherku dan semakin turun ke bawah, bibirnya kini menemukan buah dadaku yang mengeras. Tanpa berkata-kata sambil sejenak melirik padaku, Yanti menciumi dua bukit payudaraku secar bergantian. Napasku mulai memburu hingga akhirnya aku menjerit kecil ketika bibir itu menghisap puting susuku. Dan sungguh aku menikmati semuanya, karena baru pertama kali ini aku diciumi oleh seorang wanita.
“Akh.., Yaantiii.., oh..!” jerit kecilku sedikit menggema. “Kenapa Suvii.., enak ya..!” katanya di sela-sela menghisap putingku. “Iya.., oh.., enaaks… teruus..!” kataku sambil menekan kepalanya. Diberi semangat begitu, Yanti semakin gencar menghisap-hisap putingku, namun tetap lembut dan mesra. Tangan kirinya menahan tubuhku di punggung.
Sementara tangan kanannya turun ke bawah menuju kemaluanku. Aku teringat akan suamiku yang sering melakukan hal serupa, namun perbedaannya terasa sekali, Yanti sangat lembut memanjakan tubuhku ini, mungkin karena dia juga wanita.
Setelah tangan itu berada di kemaluanku, dengan lembut sekali dia membelainya. Jarinya sesekali menggesek kelentitku yang masih tersembunyi, maka aku segera membuka pahaku sedikit agar kelentitku yang terasa mengeras itu leluasa keluar.
Ketika jari itu menyentuh kelentitku yang mengeras, semakin asyik Yanti memainkan kelentitku itu, sehingga aku semakin tidak dapat mengendalikan tubuhku. Aku menggelinjang hebat ketika rasa geli campur nikmat menjamah tubuhku. Pori-poriku sudah mengeluarkan keringat dingin, di dalam liang vaginaku sudah terasa ada cairan hangat yang mengalir perlahan, pertanda rangsangan yang sungguh membuatku menjadi nikmat.
Ketika tanganku menekan bagian atas kepalanya, bibir Yanti yang menghisap kedua putingku secara bergantian segera berhenti. Ada keinginan pada diriku dan Yanti mengerti akan keinginanku itu. Namun sebelumnya, kembali dia pada posisi wajahnya di depan wajahku. Tersungging senyuman yang manis.
“Ingin yang lebih ya..?” kata Santi. Sambil tersenyum aku mengangguk pelan. Tubuhku diangkatnya dan aku duduk di ujung bak mandi yang terbuat dari porselen. Setelah aku memposisikan sedemikian rupa, tangan Yanti dengan cekatan membuka kedua pahaku lebar-lebar, maka vaginaku kini terkuak bebas. Dengan posisi berlutut, Yanti mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Aku menunggu perlakuannya dengan jantung yang berdebar kencang. Prediksi Bola
Cerita seks — Napasku turun naik, dadaku terasa panas, begitu pula vaginaku yang terlihat pada cermin yang terletak di depanku sudah mengkilat akibat basah, terasa hangat. Namun rasa hangat itu disejukkan oleh angin yang keluar dari kedua lubang hidung Yanti. Tangan Yanti kembali membelai vaginaku, menguakkan belahannya untuk menyentuh kelentitku yang semakin menegang.