
RajaNgocok — Cerita Dewasa Cerita murid entot ibu guru vagina guruku sedap sekali — Kejadian ini tepatnya ketika aku masih duduk du bangku SMA, Sedang teman kencanku adalah seorang guru seni lukis di SMA-ku yang masih terbilang baru dan masih lajang. Saat itu umurku masih mengijak 17–18 tahun. Sedang guru lukisku itu adalah guru wanita paling muda, baru 25 tahun. Semula aku memanggilnya Bu Guru, layaknya seorang murid kepada gurunya. Tapi semenjak kami akrab dan dia mengajariku making love, lama-lama aku memanggilnya dengan sebutan Mbak. Tepatnya, Mbak Yani. Mau tahu ceritanya?
Sore
itu ada seorang anak kecil datang mencari ke rumah. Aku diminta datang
ke rumah Mbak Yani, tetangga kampungku, untuk memperbaiki jaringan
listrik rumahnya yang rusak.
“Cepat ya, Mas. Sudah ditunggu Mbak Yani,” ujar anak SD tetangga Mbak Yani.
Dalam hati, aku sangat girang. Betapa tidak, guru seni lukis itu rupanya makin lengket denganku. Aku sendiri tak tahu, kenapa dia sering minta tolong untuk memperbaiki peralatan rumah tangganya. Yang jelas, semenjak dia mengajaku melukis pergi ke lereng gunung dan making love di semak-semak hutan, Mbak Yani makin sering mengajakku pergi. Dan sore ini dia memintaku datang ke rumahnya lagi.
Tanpa banyak pikir aku langsung berangkat dengan mengendarai sepeda motor. Maklum, rumahnya terbilang cukup jauh, sekitar 5km dari rumahku. Setibanya di rumah Mbak Yani, suasana sepi.
Keluarganya tampaknya sedang pergi.Betul, ketika aku mengetuk pintu, hanya Mbak Yani yang tampak. “Ayo, cepet masuk. Semua keluargaku sedang pergi menghadiri acara hajatan saudar di luar kota,” sambut Mbak Yani sambil menggandeng tangganku. Darahku mendesir ketika membuntuti langkah Mbak Yani. Betapa tidak, pakaian yang dikenakan luar biasa sexy, hanya sejenis daster pendek hingga tonjolan payudara dan pahanya terasa menggoda.
“Anu, Bud… Listrik rumahku mati melulu. Mungkin ada ada kabel yang konslet. Tolong betulin, ya… Kau tak keberatan kan?” pinta Mbak Yani kemudian.
Tanpa banyak basa-basi Mbak Yani menggandengku masuk ke ruang tengah, kemudian masuk ke sebuah kamar. “Nah saya curiga jaringan di kamar ini yang rusak. Buruan kau teliti ya. Nanti keburu mahrib.”
Aku hanya menuruti segala permintaannya. Setelah merunutu jaringan kabel, akhirnya aku memutusukan untuk memanjat atap kamar melalui ranjang. Tapi aku tidak tahu persis, kamar itu tempat tidur siapa. Yang jelas, aku sangat yakin itu bukan kamarnya bapak-ibunya. Celakanya, ketika aku menelusuri kabel-kabel, aku belum menemukan kabel yang lecet. Semuanya beres. Kemudian aku pindah ke kamar sebelah. aku juga tak bisa menemukan kabel yang lecet. Kemudian pindah ke kamar lain lagi, sampai akhirnya aku harus meneliti kamar tidur Mbak Yani sendiri, sebuah kamar yang dipenuhi dengan aneka lukisan sensual. Celakanya lagi, ketika hari telah gelap, aku belum bisa menemukan kabel yang rusak. Akibatnya, rumah Mbak Yani tetap gelap total.
Dan
aku hanya mengandalkan bantuan sebuah senter serta lilin kecil yang
dinyalakan Mbak Yani. Lebih celaka lagi, tiba-tiba hujan deras mengguyur
seantero
kota. Tidak-bisa tidak, aku harus berhenti. Maunya aku
ingin melanjutkan pekerjaan itu besok pagi. “Wah, maaf Mbak aku tak bisa
menemukan kabel yang rusak. Ku pikir, kabel bagian puncak atap rumah
yang kurang beres. Jadi besok aku harus bawa tangga khusus,” jelasku
sambil melangkah keluar kamar. “Yah, tak apa-apa. Tapi sorry yah. Aku….
merepotkanmu,” balas Mbak Yanti.
“Itu es tehnya diminum dulu.”
Sementara menunggu hujan reda, kami berdua berakap-cakap berdua di ruang
tengah. Cukup banyak cerita-cerita masalah pribadi yang kami tukar,
termasuk hubunganku dengan Mbak Yani selama ini.
Mbak Yani juga tidak ketinggalan menanyakan soal puisi indah tulisannya yang dia kirimkan padaku lewat kado ulang tahunku beberapa bulan lalu. Entah bagiamana awalnya, tahu-tahu nada percakapan kami berubah mesra dan menjurus ke arah yang menggairahkan jiwa. Bahkan, Mbak Yani tak segan-segan membelai wajahku, mengelu telingkau dan sebagianya. Tak sadar, tubuh kami berdua jadi berhimpitan hingga menimbulkan rangsangan yang cukup berarti untukku. Apalagi setelah dadaku menempel erat pada payudaranya yang berukuran tidak begitu besar namun bentuknya indah dan kencang. Dan tak ayal lagi, penisku pun mulai berdiri mengencang. Aku tak sadar, bahwa aku sudah terangsang oleh guru sekolahku sendiri! Namun hawa nafsu birahi yang mulai melandaku sepertinya mengalahkan akal sehatku. Mbak Yani sendiri juga tampaknya memiliki pikiran yang sama saja. Ia tidak henti-hentinya mengulumi bibirku dengan nafsunya.
Akhirnya,
nafsuku sudah tak tertahankan lagi. Sementara bibirku dan Mbak Yani
masih tetap saling memagut, tanganku mulai menggerayangi tubuh guru
sekolahku itu. Kujamah gundukan daging kembar yang menghiasi dengan
indahnya dada Mbak Yani yang masih berpakaian lengkap. Dengan segera
kuremas-remas bagian tubuh yang sensitif tersebut. “Aaah… Budi… aah…”
Mbak Yani mulai melenguh kenikmatan. Bibirnya masih tetap melahap
bibirku. Mengetahui Mbak Yani tidak menghalangiku, aku semakin berani.
Remasan-remasan tanganku pada payudaranya semakin menjadi-jadi. Sungguh
suatu kenikmatan yang baru pertama kali kualami meremas-remas benda
kembar indah nan kenyal milik guru sekolahku itu. Melalui kain blus yang
dikenakan Mbak Yani kuusap-usap ujung payudaranya yang begitu
menggiurkan itu. Tubuh Mbak Yani mulai bergerak menggelinjang. “Uuuuhhh…
Mbak…..” Aku mendesah saat merasakan ada jamahan yang mendarat di
selangkanganku. Penisku pun bertambah menegang akibat sentuhan tangan
Mbak Yani ini, membuatku bagian selangkangan celana panjangku tampak
begitu menonjol.
Mbak Yani juga merasakannya, membuatnya semakin bernafsu meremas-remas penisku itu dari balik celana panjangku. Bandar Judi Online
Cerita seks — Nafsu birahi yang menggelora nampaknya semakin menenggelamkan kami berdua, sehingga membuat kami melupakan hubungan kami sebagai guru-murid. “Aaauuhh… Bud… uuuh…..” Mbak Yani mendesis-desis dengan desahannya karena remasan-remasan tanganku di payudaranya bukannya berhenti, malah semakin merajalela. Matanya terpejam merasa kenikmatan yang begitu menghebat. Tanganku mulai membuka satu persatu kancing blus Mbak Yani dari yang paling atas hingga kancing terakhir. Lalu Mbak Yani sendiri yang menanggalkan blus yang dikenakannya itu. Aku terpana sesaat melihat tubuh guru sekolahku itu yang putih dan mulus dengan payudaranya yang membulat dan bertengger dengan begitu indahnya di dadanya yang masih tertutup beha katun berwarna krem kekuningan. Tetapi aku segera tersadar, bahwa pemandangan amboi di hadapannya itu memang tersedia untukku, terlepas itu milik guru sekolahku sendiri.